NASIONAL.NEWS (Shanghai) — Prisillia Dita Sepirasari dan sejumlah rekan rekannya mahasiswa Universitas Padjadjaran ukir prestasi tingkat nasional dan internasional melalui dua ajang bergengsi yang berlangsung pada Juni 2026.
Keberhasilan tersebut diraih pada Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, serta The Shanghai International Invention and Expo pada 12th China (Shanghai) International Technology Fair. Capaian itu mempertegas kiprah mahasiswa Unpad dalam bidang akademik sekaligus inovasi berbasis riset.
Pada ONMIPA-PT 2026, Muhammad Novrizal Akmal dari Program Studi Matematika FMIPA berhasil meraih Medali Perak Bidang Matematika, sedangkan Muhammad Hartsa Adnan dari Program Studi Kimia memperoleh Honorable Mention Bidang Kimia.
Menurut Novrizal, keberhasilan tersebut merupakan hasil persiapan yang dilakukan secara konsisten selama beberapa bulan melalui pembinaan akademik dan latihan mandiri.
“Selama persiapan banyak membaca ulang materi-materi yang akan dilombakan juga mengikuti pembinaan yang memang disediakan prodi. Latihan soal secara mandiri juga dilakukan agar lebih matang lagi persiapannya,” ujar Novrizal seperti dinukil media Nasional.news dari Kanal Media Unpad.
Ia mengakui tantangan terbesar selama persiapan adalah membagi waktu antara latihan kompetisi dengan aktivitas perkuliahan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi sarana untuk meningkatkan disiplin serta kemampuan mengelola waktu.
Dukungan program studi, termasuk pembimbing eksternal, turut memperkaya strategi penyelesaian soal dan mendorong Novrizal menargetkan prestasi yang lebih tinggi pada ONMIPA berikutnya.
Bersinar di Ajang Internasional
Di tingkat internasional, tim yang beranggotakan Prisillia Dita Sepirasari, Muhamad Hisyam Az-Zahran, Ayesha Humayra Fayyaza, Nurhaliza Syabila Amir Putri, Muhammad Nur Fitriansyah, dan Nelson Indarto Suwarno berhasil membawa pulang Gold Medal dan Special Award melalui inovasi MICAPTURE, sistem berbasis Microbial Fuel Cell yang memanfaatkan eco-enzyme hasil fermentasi limbah organik untuk mengolah limbah tekstil sekaligus menghasilkan bioelektrisitas.
Teknologi tersebut juga terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) sehingga memungkinkan pemantauan proses penguraian zat pewarna sintetis secara lebih efisien.
Prisillia menilai pengalaman mengikuti kompetisi internasional tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi, adaptasi, dan penyelesaian masalah.
Prisillia berharap inovasi tersebut dapat dipublikasikan pada jurnal bereputasi Q1 serta memperoleh perlindungan paten. Kepada mahasiswa lain, ia berpesan, tidak perlu menunggu untuk menjadi sempurna dulu untuk mencoba, karena kalau menunggu sempurna kita tidak akan pernah mulai untuk coba banyak hal.
“Pada dasarnya kita belajar dari kesalahan, kita belajar dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik,” tandas Prisillia.








