Mantan Kepala BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Boleh Terjebak Ego Sektoral.

M Hidayat

Senin, 14 September 2026

Spektrum Bahasan

Bencana tidak mengenal batas organisasi. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kolaborasi dan kesiapan relawan menjadi hal utama yang harus dikedepankan dibanding kepentingan masing-masing lembaga.

Semangat itu mengemuka dalam Kongres IV Sekretariat Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur 2026 di Gedung Pertemuan Widya Kartika, Surabaya, Sabtu–Ahad (12–13/9/2026).

Kongres IV SRPB Jatim

Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Organisasi Relawan Penanggulangan Bencana yang Adaptif, Profesional dan Berkelanjutan” tersebut menjadi ruang konsolidasi berbagai organisasi dan komunitas relawan di Jawa Timur.

SAR Hidayatullah Jawa Timur turut berpartisipasi dalam kongres tersebut sebagai bagian dari jejaring relawan yang selama ini bergerak dalam pelayanan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Keterlibatan berbagai unsur relawan, termasuk SAR Hidayatullah, memperlihatkan pentingnya membangun jejaring lintas organisasi. Sebab, dalam situasi bencana, kemampuan berkolaborasi menjadi salah satu faktor penting agar pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

Relawan Diminta Tinggalkan Ego Sektoral

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si., dalam forum tersebut menekankan pentingnya persatuan lintas organisasi dan keseimbangan modal yang dimiliki relawan.

Ia mengingatkan agar kerja penanggulangan bencana tidak terjebak pada ego sektoral masing-masing organisasi. Bencana harus dipandang sebagai tantangan kemanusiaan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Setiap organisasi memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda. Karena itu, kekuatan tersebut perlu dipertemukan dalam sebuah kolaborasi sehingga dapat saling melengkapi ketika menghadapi kondisi darurat.

Syamsul juga mengingatkan kembali khitah SRPB sebagai wadah pelayanan. Penguatan organisasi, peningkatan kapasitas, dan profesionalitas relawan pada akhirnya harus bermuara pada kemampuan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Relawan ke depan juga dituntut semakin adaptif menghadapi perubahan karakter dan tantangan kebencanaan, tanpa meninggalkan semangat kemanusiaan yang menjadi dasar gerak mereka.

Kongres turut dihadiri Ketua Pelaksana Dwi Rossantiana, Koordinator SRPB Jawa Timur Rachmad Subekti Kimiawan, Mambaus Suud dari Sipa Siaga, Kepala BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, S.E., M.PSDM.I., Djumadi, serta berbagai unsur relawan dan mitra penanggulangan bencana.

Konsolidasi dan Regenerasi

Ketua Pelaksana Kongres IV SRPB Jatim, Dwi Rossantiana, berharap kongres menjadi momentum regenerasi kepengurusan yang sehat sekaligus wadah konsolidasi untuk menyatukan visi gerakan kemanusiaan.

Forum tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis guna meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di Jawa Timur.

Harapan senada disampaikan Wali dari Saja Wana Bakti.

“Semoga ke depannya seluruh mitra SRPB bisa menjadikan organisasi relawan penanggulangan bencana yang adaptif, profesional dan berdedikasi,” ujarnya.

Bagi SAR Hidayatullah Jawa Timur, partisipasi dalam forum lintas organisasi seperti Kongres SRPB juga menjadi bagian penting dalam memperkuat komunikasi dan jejaring antarelemen relawan.

Jejaring tersebut dibutuhkan karena operasi kemanusiaan di lapangan hampir selalu membutuhkan sinergi banyak pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, komunitas relawan hingga masyarakat.

Muhammad Asruri Terpilih Koordinator SRPB Jatim

Selain konsolidasi organisasi, Kongres IV SRPB Jatim menghasilkan kepemimpinan baru untuk periode tiga tahun mendatang.

Muhammad Asruri dari Vertical Rescue Accessina terpilih sebagai Koordinator SRPB Jawa Timur periode 2026–2029.

Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu melanjutkan dan memperkuat kolaborasi yang telah dibangun di antara berbagai unsur relawan di Jawa Timur.

Kongres ini sekaligus membawa pesan bahwa profesionalitas relawan bukan hanya berbicara tentang keterampilan teknis ketika berada di lokasi bencana. Kemampuan bekerja bersama, menekan ego organisasi, membangun kepercayaan, dan menjaga keberlanjutan gerakan kemanusiaan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Di tengah ancaman bencana yang dapat datang kapan saja, kolaborasi berbagai unsur—termasuk SAR Hidayatullah dan jaringan relawan lainnya—menjadi modal penting agar pertolongan dapat hadir lebih cepat ketika masyarakat membutuhkannya.

TERKAIT LAINNYA