Luka lama itu membahayakan, bahkan mematikan. Ilustrasinya bisa kita ambil dari peristiwa kecelakaan bus baru-baru ini di Musi Rawas Utara. Ternyata bus itu sudah berusia 24 tahun. Dalam kata yang lain, bus itu sudah sangat lama alias tua. Alhasil saat dipaksa melaju layaknya bus yang worth it, hasilnya sangat membahayakan.
Jika mesin bus lama bisa membahayakan, apalagi pikiran dan luka lama dalam diri manusia. Kemungkinan kondisinya akan tidak jauh berbeda.
Sama halnya dengan onderdil bus yang aus dimakan usia, luka lama dalam batin manusia bertindak seperti karat yang menggerogoti sistem kendali diri. Jika bus yang tua kehilangan remnya, manusia dengan luka lama seringkali kehilangan kendali atas emosi dan logika sehatnya.
Kerusakan mekanis pada bus lama tersebut adalah potret nyata dari kerusakan mental yang dialami oleh manusia yang gagal melakukan ‘peremajaan’ jiwa.
Luka lama membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir terbaiknya. Seperti juga yang seorang kolega saya rasakan. Ia terseret pada perasaan terluka dan memandang siapapun sebagai buruk. Alhasil ia sulit untuk bisa menguntai kalimat yang positif. Sebaliknya, ungkapan demi ungkapannya cenderung buruk, negatif dan menyerang orang lain.
Kondisi ini bukan sekadar soal perasaan yang sensitif, melainkan akumulasi dari apa yang tersimpan dalam memori kita. Beban masa lalu ini, jika dibiarkan menetap, berubah menjadi residu mental yang menyumbat produktivitas jiwa.
Sampah-sampah Otak
Menyelami lebih jauh hal itu, saya mendapati teori Greg McKeown dalam bukunya “Effortless” bahwa kalau seseorang ingin hidupnya ringan, ia harus membuang sampah-sampah otak.
Sampah-sampah otak itu setidaknya tiga hal. Yaitu asumsi yang ketinggalan zaman. Kemudian emosi yang negatif. Dan juga pola pikir yang beracun.
Jika sebuah asumsi lama saja tidak relevan, bagaimana kalau luka lama. Tentu semakin tidak kita butuhkan.
Lantas, bagaimana kita membuang beban yang sudah mengendap tahunan tersebut? Islam menawarkan mekanisme detoksifikasi pikiran melalui sebuah perintah sederhana namun mendalam: Membaca.
Oleh karena itu Islam mendorong manusia untuk selalu membaca, memerhatikan, dan lain sebagainya, supaya manusia selamat dari cara berpikir lama, apalagi duka dan luka lara yang telah begitu lama menganga dalam jiwa.
Menyadari adanya sampah otak adalah langkah awal, namun membersihkannya membutuhkan alat yang tepat. Di sinilah peran kesadaran intelektual dan spiritual menjadi krusial untuk membilas sisa-sisa duka yang menghambat langkah kita.
Berpikir Selalu
Langkah paling tepat dalam menjawab semua itu adalah dengan tak berhenti berpikir. Dalam makna kita harus terus membaca, baik mata, maupun mata hati dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya kita mesti coba menemukan alasan dari setiap peristiwa yang kita alami. Karena semua yang terjadi bukan semata-mata ada, tapi ada yang mendesain dan tentu saja ada maksud atau hikmah di balik semua itu.
Oleh karena itu upayakan untuk menjadi insan ulul albab, yang kegiatan utamanya adalah dzikir dan pikir.*
