JAKARTA, NASIONAL.NEWS — Presiden Prabowo Subianto menilai genteng berbasis sabut kelapa hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai inovasi yang menjanjikan setelah menguji langsung ketahanannya.
Di hadapan sekitar 150 periset BRIN, Prabowo membanting hingga menginjak material tersebut untuk memastikan kekuatannya. Hasil pengujian sederhana itu memperlihatkan genteng tetap utuh, sehingga memunculkan apresiasi Presiden yang menyatakan, “Tapi (genteng) ini bagus nih. Ini bisa produksi massal?”
Pengujian dilakukan setelah Peneliti BRIN dari Pusat Riset Biomassa Indonesia, Sukma Surya Kusumah, memaparkan bahwa genteng tersebut dibuat dari sabut kelapa, memiliki bobot ringan, tahan lama, serta ramah lingkungan.
“Genteng berbasis sabut kelapa,” ujar Sukma. Ia juga menegaskan, “(Genteng sabut kelapa) nggak mudah pecah, bisa didemokan untuk diinjak atau dilempar.”
Selain menguji kekuatan produk, Prabowo juga menaruh perhatian pada peluang produksi dalam skala besar dan efisiensi biaya, terutama untuk mendukung program gentengisasi.
Menurut Sukma, kebutuhan genteng untuk rumah tipe 36 diperkirakan mencapai sekitar Rp11 juta, sedangkan untuk rumah berukuran 4 x 6 meter di Nias sekitar Rp12 juta.
Saat ini harga produksi berkisar Rp15 ribu hingga Rp26 ribu per keping, namun diproyeksikan dapat ditekan menjadi sekitar Rp10 ribu per keping apabila kapasitas produksi meningkat. Sebagai pembanding, harga genteng tanah liat berada di kisaran Rp7 ribu per keping.
Memiliki Dasar Keselamatan dan Kesehatan
Sekedar informasi, dorongan untuk menghadirkan alternatif material atap memang memiliki dasar keselamatan dan kesehatan.
Atap seng dikenal mudah menyerap serta menghantarkan panas sehingga meningkatkan suhu ruang, sedangkan material asbes telah lama dikategorikan berisiko bagi kesehatan karena seratnya dapat terhirup dan dikaitkan dengan penyakit paru-paru serius apabila terpapar dalam jangka panjang.
Sebaliknya, material berbasis serat alam seperti sabut kelapa, ijuk, maupun rumbai memiliki karakter sebagai isolator panas yang lebih baik, berasal dari sumber daya terbarukan, serta berpotensi menghadirkan hunian yang lebih nyaman dan ramah lingkungan.
Inovasi BRIN tersebut sekaligus dinilai menunjukkan peluang pemanfaatan biomassa nasional menjadi produk bernilai tambah yang mendukung industri bahan bangunan berkelanjutan.








