Lontar Menjadi Karya Kreatif, Menghidupkan Kembali Seni Anyaman Desa Sawakong

NN Newsroom

Jumat, 14 Agustus 2026

TAKALAR, NASIONAL.NEWS — Serat daun lontar kembali diolah menjadi karya kreatif di Desa Sawakong, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, keterampilan anyaman yang diwariskan secara turun-temurun dikembangkan melalui eksplorasi bentuk, desain, fungsi, warna, teknik, hingga penyelesaian produk, dengan tetap mempertahankan karakter lokal.

Pengembangan tersebut berlangsung melalui kegiatan “Pengembangan Inovasi Seni Kriya Anyaman Serat Daun Lontar Berbasis Komunitas Ekonomi Kreatif di Desa Sawakong, Kabupaten Takalar”. Program ini bermitra dengan Komunitas Pengrajin Anyaman Serat Daun Lontar Karya Insani dan menjadi bagian dari PISN yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.

Kegiatan yang terdokumentasi berlangsung pada 8–9 Agustus 2026 di Sawakong. Fokus program mencakup penguatan sosial kemasyarakatan, regenerasi pelaku seni, inovasi desain produk, peningkatan kualitas, serta penguatan ekosistem komunitas ekonomi kreatif.

Selama ini, aktivitas menganyam di komunitas Karya Insani banyak dilakukan secara individual dan berbasis rumah tangga. Produk yang dihasilkan cenderung memiliki bentuk dan fungsi relatif seragam. Kondisi tersebut berhadapan dengan perubahan selera konsumen, persaingan produk kreatif, keterbatasan variasi desain, kualitas, serta akses pasar.

PISN mengarahkan pengrajin untuk memandang anyaman bukan hanya sebagai kerajinan sehari-hari, tetapi juga sebagai media ekspresi kreatif. Proses pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari mengenali potensi bahan, mengeksplorasi ide, membuat rancangan, mencoba teknik, menghasilkan prototipe, mengevaluasi, hingga menyempurnakan produk.

Regenerasi dan Pengetahuan Budaya

Pengrajin Karya Insani tampak mengolah serat lontar secara langsung. Sejumlah produk yang ditampilkan berupa wadah anyaman dengan variasi pola dan warna serta berbagai bentuk penutup kepala berbahan serat lontar.

Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan regenerasi. Sebagian besar pengrajin merupakan perempuan yang tetap mempertahankan keterampilan menganyam di tengah peran mereka dalam keluarga dan masyarakat. Mereka diposisikan tidak hanya sebagai produsen karya, tetapi juga sebagai penjaga pengetahuan budaya.

Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan menganyam disebut masih terbatas. Karena itu, program mendorong ruang belajar lintas generasi, dengan pengrajin senior berbagi pengalaman dan keterampilan, sementara generasi muda mendapat ruang mengeksplorasi kreativitas, desain, teknologi, dan media baru.

Penguatan juga diarahkan pada pemasaran. Dokumentasi visual, katalog digital, media sosial, dan platform promosi diperkenalkan agar karya anyaman dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Komunitas juga didorong membangun identitas bersama, berbagi pengetahuan, mengembangkan produk, melakukan promosi, dan membuka jejaring pasar secara kolektif.

Tim PKM PISN dalam kegiatan di Desa Sawakong ini terdiri atas Prof. Dr. Hj. Ratna Dewi, S.E., M.Si., Dr. Ir. Nashrah, S.T., M.Si., Dr. Andi Nur Putri, S.Pd., M.T., dan Dr. Eng. Kusno Kamil, S.T., M. Eng. Mngt.

Melalui PISN 2026, anyaman lontar Sawakong dikembangkan dengan tetap menjadikan identitas lokal sebagai sumber inspirasi. Tradisi tersebut diarahkan untuk menemukan bentuk dan fungsi baru yang dapat terhubung dengan kreativitas serta ekosistem ekonomi kreatif komunitas.

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version