Hidup bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan. Sebagian lagi boleh jadi merasa hampa. Tapi bagaimana bagi sebagian yang lain lagi, jangan-jangan malah membahagiakan, karena memang hidupnya bukan semata kesenangan pribadi, melainkan mampu memberi dampak kebaikan.
Hidup yang berdampak artinya hidup yang memberi arti bahkan kontribusi bagi kehidupan sesama. Penting kita garisbawahi, dampak bukanlah soal skala besar atau kecil, melainkan soal jejak yang kita tinggalkan dalam ingatan dan kehidupan orang lain.
Seperti hidup seorang Soekarno dan Hatta. Hidup mereka pasti luar biasa, bahkan keluarganya pun dan rakyat Indonesia terdampak dengan kebaikan-kebaikan mereka.
Soal nasionalisme misalnya, Bung Karno tetap menjadi rujukan. Tentang membangun ekonomi melalui koprasi juga, Bung Hatta pasti menjadi inspirator.
Keduanya hidup bukan semata mengenalkan nama, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan melalui kiprah dan warisan pemikiran.
Bung Karno mengisi hari demi hari dengan tekun membaca dan aktif berlatih orasi. Bung Hatta tekun mendalami pemikiran, sehingga kala belajar ke Belanda pun, ia tak memuja penjajah itu. Tapi semakin sadar untuk membawa kemerdekaan bagi bangsa ini.
Bagi kita hari ini, menjadi “Soekarno-Hatta” tidak harus dimulai dengan pidato di podium besar, tapi bisa dimulai dengan keberanian menyuarakan kebenaran di ruang-ruang digital kita.
Berikan dan Berikan
Tidak sedikit orang merasa hidupnya hampa karena yang ada dalam pikirannya hanya soal mendapat, menerima dan mendapat. Padahal untuk hidup yang baik kita harus bisa memberi dan berbagi.
Memberi bukan berarti menguras habis diri sendiri. Justru, sebelum kita mampu menjadi “tangan di atas”, kita harus selesai dengan urusan di dalam.
Sebagai contoh, seorang petani tak cukup memberi lahan yang subur bagi tanaman. Ia juga harus memberi perhatian dengan pupuk, pengairan yang tepat, termasuk menjauhkan gangguan berupa hama.
Sama dengan kehidupan manusia, kalau orang mau memberi perhatian terhadap jiwanya, maka ia akan selamat dari pragmatisme. Kalau orang memberi makan terhadap ruhiyahnya, ia tidak akan menjadi manusia yang egois yang tindakannya destruktif.
Jadi, kalau mau hidup yang berarti, bermakna dan berdampak, beri perhatian terhadap jiwa ini, beri makanan terhadap ruhiyah kita sendiri. Penting jadi catatan kita, memberi pada diri sendiri (nutrisi ruhiyah) adalah prasyarat untuk bisa memberi kepada dunia.
Kita tahu bersama, bahwa pada dasarnya mustahil kita bisa menyalakan lilin orang lain jika sumbu di dalam jiwa kita sendiri sudah padam.
Membawa Perubahan
Puncak dari hidup orang yang penuh makna dan memberi dampak adalah yang bisa membawa perubahan.
Sebagai contoh, kalau seseorang berkata-kata dan orang lain mendapat manfaat dari kata-kata itu, maka ia telah membawa perubahan.
Ini bermakna berkata-kata pun perlu kita pelajari caranya. Bagaimana kata-kata kita tertata dan punya makna. Tak sekadar bicara, mungkin suaranya keras tapi kosong dari makna.
Di era media sosial yang bising ini, kata-kata yang lahir dari kejernihan berpikir adalah sebuah kemewahan sekaligus senjata perubahan.
Selain itu perubahan juga bisa lahir dari kesadaran dan tindakan. Jadi kalau mau hidup menyala, bisa membawa dampak, pastikan untuk terus melatih kesadaran dan memilih tindakan yang tepat dan berdampak baik.
Orang yang hidupnya berdampak artinya orang yang mendesain hari demi harinya dengan penerapan iman, ilmu dan amal.
Hidup berdampak bukanlah sebuah kebetulan; ia adalah desain arsitektural yang kita bangun lewat pilihan-pilihan kecil setiap pagi.
Nah, itu dasarnya dan karena itu dasarnya, siapapun bisa melakukannya. Asalkan sadar, punya niat dan tekad kuat. Sekarang tinggal pada pilihan kita sendiri.*
