NASIONAL.NEWS (Pandeglang) — Tim dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMK Negeri 4 Pandeglang dengan fokus pada penguatan kesadaran lingkungan melalui pendekatan pembelajaran digital.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Implementasi Ekoliterasi dalam Media Microlearning untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan di SMK Negeri 4 Pandeglang” dan berlangsung dalam rentang waktu September 2025 hingga Januari 2026.
Kegiatan PkM ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai oleh Dr. Yulian Dinihari, M.Pd., dengan anggota Hilda Hilaliyah, M.Pd., Dian Nazelliana, M.Kom., dan Aisyah Amini. Seluruh rangkaian program dilaksanakan di lingkungan SMK Negeri 4 Pandeglang dan memperoleh dukungan dari kepala sekolah, guru, serta perwakilan siswa.
Peserta yang terlibat secara aktif berjumlah sekitar 68 orang, terdiri atas guru mata pelajaran umum, guru produktif, dan perwakilan siswa dari berbagai kompetensi keahlian.
Pelaksanaan program dirancang melalui empat tahapan utama, yaitu sosialisasi ekoliterasi, pengenalan media microlearning, pendampingan implementasi, serta evaluasi pelaksanaan di lingkungan sekolah. Setiap tahapan disusun secara berurutan untuk memastikan keterpaduan antara pemahaman konseptual dan praktik pembelajaran.
Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka di aula sekolah dan dipadukan dengan pemanfaatan perangkat digital sederhana, seperti laptop dan gawai. Perangkat tersebut digunakan untuk mengakses serta menampilkan konten microlearning yang diperkenalkan kepada peserta. Pada akhir setiap sesi, peserta mengikuti refleksi singkat untuk mencatat perubahan pemahaman terkait isu lingkungan yang dibahas.
Sosialisasi Ekoliterasi
Sosialisasi ekoliterasi menjadi tahapan awal yang berfokus pada penguatan konsep dasar. Dalam sesi ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai pengertian ekoliterasi, isu lingkungan global, serta keterkaitannya dengan kondisi lokal di Kabupaten Pandeglang dan lingkungan sekolah. Materi mencakup isu perubahan iklim, pengelolaan sampah, serta keterbatasan sumber daya alam yang dikaitkan dengan aktivitas keseharian warga sekolah.
Ketua tim PkM, Dr. Yulian Dinihari, M.Pd., menjelaskan bahwa tahap awal ini diarahkan untuk membangun kesadaran bersama mengenai kedekatan isu lingkungan dengan kehidupan peserta.
“Materi ekoliterasi kami susun agar peserta dapat melihat bahwa persoalan lingkungan tidak bersifat jauh atau abstrak, tetapi hadir di sekitar sekolah dan aktivitas harian mereka,” ujarnya dalam salah satu sesi pemaparan.
Diskusi dalam sesi sosialisasi juga menyoroti peran guru dan siswa dalam membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan. Guru didorong untuk menampilkan perilaku ramah lingkungan dalam aktivitas pembelajaran, sementara siswa diajak berpartisipasi melalui praktik sederhana seperti memilah sampah, menghemat energi, dan menjaga kebersihan ruang belajar. Seluruh sesi berlangsung dengan keterlibatan aktif peserta yang mengikuti pemaparan dan diskusi secara tertib.
Tahapan berikutnya adalah pengenalan media microlearning bertema ekoliterasi. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan pada prinsip dasar microlearning, seperti penyajian materi berdurasi singkat antara tiga hingga lima menit, fokus pada satu konsep utama, serta penggunaan visual yang relevan. Narasumber menampilkan contoh konten microlearning yang mengangkat isu lingkungan sebagai gambaran bentuk materi yang dapat dikembangkan.
Anggota tim PkM, Dian Nazelliana, M.Kom., menyampaikan bahwa microlearning dipilih karena mudah diakses dan dapat digunakan dengan perangkat sederhana.
“Pendekatan microlearning memungkinkan guru menyisipkan isu lingkungan secara ringkas namun bermakna di dalam proses pembelajaran,” katanya saat sesi pengenalan media.
Pendampingan implementasi dilakukan untuk memastikan konten yang dikembangkan dapat digunakan secara langsung. Guru didampingi dalam memanfaatkan video dan infografis microlearning sebagai pengantar diskusi, penguat materi, atau bahan refleksi pembelajaran.
Di beberapa kelas, konten microlearning digunakan sebagai pembuka yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai tindakan konkret yang relevan dengan isu lingkungan yang diangkat.
Mengidentifikasi Isu Lingkungan
Selama proses pendampingan, guru dan siswa diajak mengidentifikasi isu lingkungan lain di sekitar sekolah yang dapat dijadikan tema microlearning lanjutan, seperti pengelolaan air bersih, penghijauan area sekolah, dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong keberlanjutan program di tingkat sekolah.
Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan terbentuknya proses pembelajaran yang menggabungkan ekoliterasi dan pemanfaatan teknologi sederhana. Guru memperoleh pengalaman dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran, sementara siswa dilibatkan sebagai peserta aktif dalam penggunaan dan pengembangan konten microlearning.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata dari tim PkM kepada perwakilan SMK Negeri 4 Pandeglang. Prosesi ini dilaksanakan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan keterlibatan warga sekolah selama program berlangsung.
Penutupan kegiatan sekaligus menandai berakhirnya rangkaian PkM serta membuka ruang kerja sama lanjutan dalam pengembangan ekoliterasi berbasis microlearning di lingkungan sekolah.
HASMAN DWIPANGGA








