SURABAYA – Di bawah naungan menara Masjid Aqshal Madinah, suasana hangat menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Minggu (8/3). Sore itu, bukan sekadar ritual berbuka puasa biasa yang tersaji, melainkan sebuah ikhtiar besar bertajuk “Ramadhan Menyatukan Hati, Silaturahim Menguatkan Negeri.”
Panitia Bersama Syiar Ramadhan Hidayatullah Surabaya berhasil mempertemukan berbagai simpul kekuatan masyarakat—mulai dari ulama, tokoh masyarakat, hingga representasi pemerintah—dalam satu meja persaudaraan.
Iman, Islam, dan Ihsan: Fondasi Bangsa
Suasana khidmat memuncak saat KH Abdul Wachid menyampaikan tausiyahnya. Di hadapan para tokoh, beliau mengingatkan bahwa keberagaman di Indonesia memerlukan fondasi spiritual yang kokoh. Menurutnya, beragama tidak boleh parsial.
“Islam tanpa iman hanya akan melahirkan kekacauan. Kita harus menjalankan iman, Islam, dan ihsan secara beriringan karena ketiganya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan,” tegas KH Abdul Wachid.
Pesan ini menjadi pengingat tajam bahwa di tengah dinamika kebangsaan, nilai-nilai spiritualitas adalah jangkar utama untuk menjaga kedamaian dan ketertiban sosial.
Sinergi Tanpa Batas
Lebih dari sekadar seremonial, agenda ini dirancang sebagai jembatan sinergi. Pihak Pesantren Hidayatullah berharap momentum Ramadhan tahun ini menjadi katalisator bagi gerakan dakwah dan sosial yang lebih masif di Jawa Timur, khususnya Surabaya.
Keberhasilan acara ini pun tak lepas dari tangan dingin dan dukungan berbagai elemen. Panitia memberikan apresiasi mendalam kepada para donatur dan mitra strategis yang telah menyokong gerak dakwah ini, di antaranya:
- Internal Organisasi: DPW Hidayatullah Jatim, PD & PW Mushida, Kampus Utama PPH Surabaya, serta jajaran DPD Surabaya dan Sidoarjo.
- Sektor Bisnis & Sosial: Sakinah Swalayan, Roumah Wakaf, BMH Jatim, PT Lentera Jaya Abadi, hingga Mitra Dai Nusantara.
- Komunitas & Pendidikan: SAR Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, Komite Sekolah Luqman Al Hakim, dan MT Az Zahrah.
Sebuah Harapan
Saat azan Maghrib berkumandang, tegukan air dan manisnya kurma menjadi simbol luruhnya ego sektoral. Silaturahim ini diharapkan bukan sekadar titik kumpul, melainkan titik balik untuk memperkuat persatuan nasional melalui peningkatan kualitas iman dan bakti sosial kemasyarakatan.
Bagi Hidayatullah, Ramadhan kali ini adalah tentang bagaimana hati yang menyatu mampu menjadi pondasi bagi negeri yang kuat. ( Adib Nursyahid )*
