Kita terus belajar, tapi tak pernah menjadi expert. Mengapa?
Ungkapan itu disampaikan oleh Dimas, Kepala Sekolah Amil Indonesia (SAI) dari Forum Zakat. Beberapa waktu silam, kami bertemu, diskusi dan makan siang bersama. Ia resah melihat berapa banyak amil sudah bekerja hingga setengah dekade, rajin ikut kelas, tapi tidak juga menjadi orang yang ahli (expert) pada urusannya.
Satu analisanya yang menarik dan sederhana namun tak bisa kita bantah adalah orang belajar dan tidak mengamalkannya.
Apalagi sekarang, era informasi dan pengetahuan datang bak tsunami. Kalau seseorang merasa telah belajar dengan semua itu, kemudian tidak ada kompetensi yang meningkat dalam hidupnya, itulah orang yang rajin belajar tapi tidak kemana-mana.
Proses Terstruktur
Masih menurut Dimas, semua itu juga karena mereka belajar tanpa struktur. Alhasil tangkapan dan pemahamannya tentang apa yang dilakukan tidak benar-benar rapi, sinkron dan sistemik.
Penjelasan itu menunjukkan bahwa menjadi ahli dalam satu bidang atau urusan bukan semata soal akumulasi jam kerja. Lebih jauh adalah tentang proses yang terstruktur. Yang dengan itu seseorang dalam belajar melibatkan latihan mental, pembuktian praktis dan ketekunan berbasis spiritual.
Seperti ungkapan James O. Whittaker belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Jadi kalau ada Amil zakat sebelumnya tidak memiliki kemampuan mendesain program, dengan belajar ia tidak sebatas bisa, tapi mengerti mengapa desain program itu perlu, relevan dan progresif.
Senapas dengan itu, Chaplin juga mengatakan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap atau permanen sebagai akibat latihan dan pengalaman. Jadi kalau ada orang berkata, orang ini berpengalaman, itu artinya ia telah belajar dengan terstruktur dan memiliki keahlian.
Langkah Konkret
Untuk mengatasi itu semua, kita bisa memulai untuk sadar dan merancang apa yang akan kita lakukan, agar ilmu yang pernah kita serap bisa kita terapkan dengan baik.
Pertama, lakukan pengulangan dengan arah, bisa menikmati dan senang melakukannya.
Dalam hal menulis, saya menemukan bahwa rumus untuk konsisten menulis, seseorang mesti punya rencana, mengerjakannya sesering mungkin. Arahnya satu, jadikan itu ibadah kepada Allah SWT. Semua itu membentuk habit, bahkan lebih jauh akhirnya membentuk struktur berpikir tersendiri.
Kata Aristoteles, kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Sedangkan Buya Hamka mengatakan manusia adalah budak kebiasaannya.
Dalam Islam ada konsep amal saleh, itu artinya kekuatan iman dan ilmu akan semakin kokoh kalau kita membiasakan diri beramal saleh.
Kedua, bisa ikut magang dan melakukan yang namanya imitasi aktif (apprenticeship).
Dalam dunia ini tak ada orang pintar tanpa belajar. Dalam kata yang lain ada orang lain yang kita pelajari, kita tiru gayanya. Dalam Islam, ulama dahulu lahir karena pendidikan intens dengan sosok ulama yang hebat sebelumnya.
Jadi, jangan ragu kalau memang harus magang, ikut pelatihan dan sebagainya. Tetapi yang tak kalah penting sisi positif mana yang bisa diambil dari mentor, instruktur dan lain sebagainya untuk menjadi pemicu keahlian hadir dalam diri kita.
Dan tentu saja, dua langkah ini adalah yang paling minimal. Selanjutnya untuk bisa menjadi ahli tantang diri kita secara sadar.
Setidaknya untuk memiliki dua hal, belajar dari fondasi para pendahulu. Kemudian menciptakan kebaruan dari sintesis yang kita upayakan untuk menemukan langkah kemajuan. Kalau ini seseorang lakukan, ia akan belajar, tapi tidak sebatas bisa tahu, kemungkinannya juga bisa menjadi ahli.
Lalu apa selanjutnya setelah menjadi ahli?
Kalau kita ambil pandangan Imam Al-Ghazali, jadikan itu sebagai sarana menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, semakin dekat dengan Allah dan tentu saja semakin bermanfaat bagi sesama. Karena keahlian yang tak punya tujuan mulia, biasanya akan mengundang kesombongan dan menciptakan kerusakan dalam kehidupan.*






