WONOSOBO, NASIONAL.NEWS — Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tentang penataan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris pada penandaan bahasa di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Kegiatan yang berlangsung di Dusun Panto, Kecamatan Kaliwiro, Jumat (24/7/2026), tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang tepat, tertib, sekaligus mencerminkan identitas budaya di ruang publik.
Program ini digagas oleh tim dosen yang terdiri atas Ahmad Muzaki, M.Pd. sebagai ketua, bersama Chadis, M.Pd. dan Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. sebagai anggota.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami prinsip penataan bahasa yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa daerah sebagai warisan budaya, serta bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi global yang penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Menurut Ahmad Muzaki, kegiatan ini memiliki tujuan yang jauh melampaui aspek kebahasaan semata. Dia menyebutkan, pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini sangat perlu.
“Alasan yang mendasar agar masyarakat lebih mencintai bahasa Indonesia, melestarikan bahasa Daerah, serta menguasai bahasa Asing di Dusun Panto,” kata Muzaki dalam keterangannya.
Respons positif datang dari masyarakat setempat. Ketua RT 05/RW 02 Dusun Panto, Suyanto, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi peningkatan wawasan warga.
Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Unindra PGRI Jakarta atas kegiatan ini. “Pelaksanaan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan kebahasaan bagi masyarakat di Dusun Panto ini,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala TPQ Miftahul Huda, Hamzah, yang menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah arus perubahan zaman.
“Penggunaan bahasa daerah harus dilestarikan. Anak-anak di sini menggunakan bahasa daerah/Jawa selama proses kegiatan di TPQ ini. Jadi pelestarian bahasa ini sangat diperlukan,” katanya.
Bekal Menghadapi Perkembangan Global
Dalam pemaparannya, tim dosen menjelaskan bahwa bahasa memiliki fungsi strategis sebagai alat komunikasi, penanda identitas, sekaligus representasi budaya.
“Bahasa Indonesia berperan sebagai simbol persatuan bangsa, bahasa daerah menjaga keberlanjutan nilai-nilai lokal,” kata Ahmad Muzaki.
Sedangkan bahasa Inggris, terangnya, menjadi jembatan menghadapi perkembangan global, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, dan pariwisata. Ketiganya dapat berjalan selaras apabila digunakan secara proporsional sesuai konteks.
Hasil pengamatan awal di Dusun Panto menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan dalam penandaan bahasa di ruang publik. Di antaranya penggunaan bahasa Indonesia yang belum sesuai kaidah ejaan dan tata bahasa, pencampuran bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris yang tidak terstruktur, penggunaan bahasa asing yang belum mempertimbangkan kebutuhan komunikatif masyarakat, serta masih terbatasnya pemahaman warga mengenai prinsip penataan bahasa yang baik.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim dosen Unindra berharap masyarakat semakin sadar bahwa penataan bahasa bukan sekadar persoalan pilihan kata, melainkan bagian dari upaya menjaga identitas nasional, dan melestarikan budaya lokal.
Disamping itu, pengabdian ini diharapkan sekaligus membangun ruang publik yang komunikatif, edukatif, dan adaptif terhadap perkembangan global. Dengan keseimbangan tersebut, bahasa dinilai dapat terus menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai tradisi dengan dinamika kehidupan modern.[]








