Mas Imam Nawawi Tegaskan Pentingnya Literasi Membaca Zaman Bagi Pemuda

NN Newsroom

Selasa, 29 September 2026

Spektrum Bahasan

masim

JAKARTA — Kolumnis Nasional.news, Mas Imam Nawawi, menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai literasi dan pembacaan arah zaman pada acara webinar digelar Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) bertajuk “Diskusi Literasi Cerdas Membaca Zaman” pada Selasa malam (29/9/2026).

Dalam pemaparannya, Mas Imam Nawawi menyoroti realitas demokrasi abad ke-21 yang kerap bergeser menjadi sekadar mekanisme pengambilan keputusan untuk memenuhi hasrat berkuasa segelintir elite politik.

Dia memandang praktik hegemoni ini tercermin dari pengesahan regulasi seperti Undang-Undang Omnibus Law dan Undang-Undang KPK, di mana masyarakat dipaksa tunduk pada mekanisme yang ada.

Ia memaparkan bahwa meskipun Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan presidential threshold sebesar 0%, pimpinan partai politik tetap bersepakat bahwa calon presiden pada Pemilu 2029 minimal diusung oleh dua partai politik. Hal tersebut membatasi pilihan rakyat sebelum memasuki bilik suara.

Terkait hal ini, menurut Imam, aturan pemilulah yang menjawab tiga persoalan utama: “Siapa yang boleh maju?, Siapa yang tersedia?, dan Siapa yang terwakili?”.

Mengenai dinamika penyusunan draf RUU Pemilu oleh partai politik di Senayan, ia menekankan analogi pertandingan bahwa masyarakat tidak boleh hanya riuh saat laga berjalan, tetapi wajib bersuara keras dalam menentukan “siapa yang boleh masuk lapangan”.

Selain isu demokrasi, Mas Imam Nawawi menguraikan pola pergeseran penguasaan sumber daya alam dari perspektif sejarah geopolitik. Pada abad ke-15 hingga ke-17, bangsa asing seperti Belanda, Portugis, dan Inggris mendatangi Indonesia untuk menguasai perdagangan rempah-rempah.

Sementara itu, pada abad ke-21, korporasi internasional dan negara asing mengejar nikel sebagai komoditas strategis industri baterai dan kendaraan listrik. Ia menegaskan bahwa kendati komoditas yang diperebutkan berubah, ekspansi tersebut memiliki orientasi kekuasaan yang identik.

“Sejarah berubah objek, tetapi logika kekuasaannya tetap sama. Siapa pun yang menguasai sumber daya strategis dipastikan akan memegang pengaruh besar dalam arena global,” kata penulis buku ‘Mindset Surga’ ini.

Teknologi dan Media Modern

Selanjutnya, pemaparan Imam berlanjut pada lanskap teknologi digital dan media modern. Mas Imam Nawawi mengingatkan bahwa korporasi global dan algoritma media sosial memiliki kapasitas masif dalam memanipulasi opini publik.

Menurutnya, algoritma platform digital saat ini tidak didesain untuk mempopulerkan konten positif seperti prestasi santri, melainkan dirancang untuk mengamplifikasi narasi konflik dan perkelahian. Situasi ini, jelasnya, dapat memperkeruh kondisi sosial masyarakat serta melahirkan keputusan negara yang tertutup.

Ia menambahkan bahwa konsepsi peperangan pada abad ke-21 telah meluas, tidak lagi sebatas perebutan wilayah teritorial, melainkan mencakup perebutan sumber daya alam, penetapan keputusan politik, hingga perebutan cara berpikir manusia.

Pada kesempatan itu Mas Imam Nawawi memberi imbauan khusus kepada generasi muda agar tidak bersikap pasif. Anak muda diminta untuk tidak sebatas menjadi pengguna teknologi, melainkan wajib mempelajari ilmu, ekonomi, politik, peta kekuasaan geopolitik, serta rantai nilai sumber daya alam di balik teknologi tersebut.

Mengakhiri pandangannya, ia menegaskan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya nikel di bawah tanah, tetapi oleh banyaknya manusia yang mampu berpikir di atas tanah,” tandasnya.

TERKAIT LAINNYA