BOGOR — Indonesia memiliki modal demografi dan kekuatan ekonomi yang besar untuk menjadi negara maju. Namun, potensi tersebut tidak otomatis berubah menjadi kemajuan tanpa dukungan sumber daya manusia yang kompeten, inovatif, dan memiliki kapasitas kepemimpinan.
Tantangan inilah yang menjadi pokok pembahasan pengusaha nasional Mazz Reza Pranata dalam National Leadership Academy 2026 yang diselenggarakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) di di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertanian, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (30/10/2026).
Mengangkat tema materi “Peran Strategis Pemuda Indonesia”, Mazz Reza mengajak mahasiswa terpilih dari berbagai provinsi melihat masa depan Indonesia melalui perspektif potensi sekaligus kesiapan generasi mudanya.
Menurutnya, besarnya sumber daya dan kekuatan ekonomi nasional perlu diimbangi kemampuan generasi muda dalam merespons perubahan, mengembangkan inovasi, serta mengambil tanggung jawab dalam pembangunan.
“Anak muda hari ini harus menyadari bahwa perubahan terjadi begitu cepat. Kita tidak cukup hanya menjadi penonton atau sekadar mengikuti arus perubahan,” katanya.
Dalam paparannya, ia menguraikan sejumlah keterampilan masa depan dengan merujuk pada tren dan data World Bank. Kompetensi tersebut meliputi kecakapan digital dan teknologi, kreativitas dan inovasi, kewirausahaan dan bisnis, kepemimpinan, serta kemampuan berpikir kritis.
Kelima bidang tersebut menurutnya berkaitan dengan kapasitas generasi muda untuk menghadapi perubahan lingkungan kerja dan ekonomi. Penguasaan teknologi, misalnya, perlu disertai kreativitas agar tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat, tetapi berkembang menjadi kemampuan menghasilkan solusi.
Sementara itu, kewirausahaan dan kepemimpinan dibutuhkan untuk mengubah gagasan menjadi inisiatif yang memberikan nilai tambah.
“Kita harus mempersiapkan diri dengan kompetensi, keberanian berinovasi, dan kemampuan memimpin agar mampu mengambil peran strategis dalam masa depan Indonesia,” ungkap Mazz Reza Pranata.
Tekankan Fondasi Nilai
Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa kecakapan teknis bukan satu-satunya penentu kualitas seorang pemimpin. Fondasi nilai atau values diperlukan agar kompetensi tidak kehilangan orientasi sosial dan moral.
“Anak muda Hidayatullah harus memiliki values yang kuat. Keahlian dan kecakapan memang penting, tetapi nilai-nilai itulah yang membuat kita berbeda dengan orang lain,” katanya.
Reza menegaskan pembangunan kepemimpinan pemuda pada dua dimensi yang saling melengkapi yaitu penguasaan kompetensi dan keteguhan karakter. Keduanya, terangnya, menjadi bekal agar potensi demografi dan ekonomi Indonesia dapat diterjemahkan menjadi kapasitas produktif untuk mendorong kemajuan bangsa.
“Values menjadi kompas agar kita tidak kehilangan arah di tengah perubahan, sekaligus memastikan bahwa setiap kemampuan yang kita miliki membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa,” tambahnya.








