JAKARTA, NASIONAL.NEWS — Visi pembangunan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T merupakan esensi fundamental yang mendasari berdirinya organisasi Hidayatullah. Demikian disampaikan Analis Kebijakan Utama Kemendes PDT RI, Dr. H.M. Muhammad Nurdin, M.Si, saat menjadi narasumber dalam Diskusi Kamisan yang digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta pada Kamis (13/8/2026).
Nurdin memaparkan bahwa orientasi pada daerah terpencil bukan sekadar warisan sejarah, melainkan pusat gravitasi yang menentukan dampak organisasi secara nasional. Menurutnya, arah gerakan organisasi saat ini harus dikembalikan pada semangat awal yang diletakkan oleh pendiri Hidayatullah, Abdullah Said.
Nurdin mengingatkan kembali titik awal perjuangan organisasi yang bermula dari Gunung Tembak. “Sejak awal Hidayatullah berdiri, Abdullah Said itu telah menjalankan visi membangun daerah 3T setelah memulai dari Hidayatullah Gunung Tembak. Karena itu, seharusnya visi ini harus menjadi arah pengarusutamaan gerakan organisasi,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Jakarta sebagai barometer nasional setelah Pengurus Pusat menuntut para pengurus di ibu kota untuk menjadi arus inovasi yang mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam program-program nyata yang menjangkau hingga tingkat desa.
Implementasi visi 3T ini memerlukan tipe kepemimpinan yang kuat sekaligus lincah. Pemimpin diharapkan memiliki gaya visioner yang mampu menetapkan arah jangka panjang serta transformasional guna mendorong tim berkembang di medan dakwah yang menantang.
“Pengarusutamaan visi pembangunan daerah tertinggal tidak boleh terhenti di tingkat struktural atas, melainkan harus meresap kuat pada pengurus di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga ke pelosok desa. Hal ini bertujuan agar setiap aktivitas organisasi memiliki tujuan yang jelas dan tidak kehilangan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah terluar,” terangnya.
Aktualisasi Manajemen Masa Kini
Lebih lanjut, mantan Sekretaris Kementerian PDT periode 2011-2014 ini menjelaskan bahwa secara manajerial, pengarusutamaan visi ini wajib didukung oleh kerangka kerja yang stabil melalui penerapan prinsip perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian atau POAC.
Dia menekankan, manajemen yang efektif berfungsi menjaga konsistensi kinerja di lapangan sehingga setiap rencana pembangunan di daerah 3T dapat dieksekusi dengan efisiensi kerja yang optimal.
“Integrasi antara visi kepemimpinan yang ambisius dan manajemen yang terstruktur menjadi prasyarat mutlak agar program pemberdayaan di wilayah tertinggal menghasilkan output yang konsisten dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Sebagai jembatan antara visi dan realita lapangan, kemampuan komunikasi pemimpin menjadi faktor penentu keberhasilan. Nurdin menekankan bahwa komunikasi adalah alat utama untuk membaca peluang serta tantangan dalam mengorkestrasi sumber daya organisasi agar bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
Menurutnya, melalui komunikasi yang empatik dan persuasif, organisasi dapat membangun kepercayaan tim di berbagai level wilayah. Di sisi lain Nurdin juga mengingatkan bahwa kesehatan fisik pemimpin dan semangat untuk terus belajar menjadi pendukung vital dalam menjalankan misi pelayanan di daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau secara maksimal oleh arus pembangunan nasional.
