Nasional.news — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin mampu menghasilkan gambar realistis memunculkan pertanyaan baru di dunia fotografi: apakah fotografer profesional pada akhirnya akan tergantikan oleh mesin?

Fotografer profesional Afif Nur Efendi melihat perkembangan tersebut dari sudut pandang berbeda. Menurut fotografer yang telah berkarier lebih dari 25 tahun itu, AI tidak semestinya dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai perangkat yang dapat membantu mempercepat pekerjaan kreatif.
“Sebuah foto bukan cuma gambar yang bisa dilihat, tapi ada momen yang diabadikan,” ujar Afif.
Afif menilai perkembangan AI merupakan bagian dari perjalanan teknologi yang pada dasarnya hadir untuk mempermudah kehidupan manusia. Dalam fotografi, perkembangan tersebut dapat dilihat dari perjalanan kamera, mulai dari kamera obscura, kamera daguerreotype, kamera analog hingga kamera digital.
“AI juga bagian dari perkembangan teknologi, tujuan utamanya ya mempermudah,” kata pria kelahiran Lamongan tersebut.
Karena itu, ia tidak melihat AI sebagai ancaman langsung bagi profesi fotografer. Menurut Afif, teknologi tetap merupakan alat, sedangkan kualitas hasil akhirnya sangat bergantung pada orang yang menggunakannya.
AI Percepat Proses Produksi
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di dunia fotografi, Afif justru mengakui AI telah membantu mempercepat sejumlah tahapan pekerjaannya.
Menurut dia, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sejak tahap pra-produksi. AI, misalnya, dapat digunakan untuk membuat moodboard, mencari referensi visual, hingga membantu mendiskusikan konsep pemotretan.
“AI sangat membantu, adanya AI (buat) proses preps jadi lebih cepat. Hemat waktu dan kita bisa fokus ngerjain yang lain,” ujar Afif.
Pemanfaatan tersebut juga dinilai dapat mempercepat proses penyelesaian pekerjaan kepada klien. Dengan waktu produksi yang lebih efisien, fotografer dapat mengalokasikan energi dan waktu untuk mengerjakan proyek lainnya.
Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta membuat Afif mendorong penggunaan AI secara penuh untuk menghasilkan foto.
Ketika Foto Terlalu Sempurna dan Kehilangan Cerita
Afif melihat adanya perbedaan mendasar antara gambar yang dihasilkan AI dan foto yang lahir dari pengalaman manusia di balik kamera.
Saat ini, berbagai AI image generator memungkinkan siapa pun menghasilkan gambar dengan tingkat ketajaman, pencahayaan, dan komposisi yang terlihat sangat sempurna. Namun, menurut Afif, kualitas teknis bukan satu-satunya ukuran sebuah foto yang baik.
Kesempurnaan visual, kata dia, belum tentu mampu menghadirkan cerita.
Fotografer, menurut Afif, memiliki kemampuan untuk menangkap suasana dan menyesuaikan tone warna berdasarkan kondisi serta emosi yang hadir dalam sebuah momen. Ketidaksempurnaan yang muncul dalam proses tersebut justru dapat memberikan karakter tersendiri pada sebuah karya.
“Experiencing the moment” menjadi salah satu hal yang ia anggap penting dalam fotografi. Setiap orang memiliki pengalaman, cerita, dan perasaan yang berbeda ketika berada dalam sebuah momen.
Karena itu, sebuah foto tidak hanya dipandang dari hasil akhirnya, tetapi juga dari pengalaman yang menyertai proses pengambilan gambar.
Khawatir “Rasa” Foto Terkikis
Meski melihat manfaat AI, Afif tetap mengingatkan adanya risiko jika teknologi tersebut digunakan secara berlebihan.
Ia menilai perkembangan AI image generator berpotensi mengubah cara masyarakat memandang fotografi. Ketika publik semakin terbiasa melihat gambar yang secara visual tampak sempurna, ada kekhawatiran aspek emosional dan cerita di balik sebuah foto justru semakin terpinggirkan.
Afif bahkan mengkhawatirkan penggunaan AI secara berlebihan dapat mengikis “rasa” dalam sebuah foto.
Menurut dia, teknologi memang mampu membantu menciptakan visual, tetapi manusia tetap memiliki peran penting dalam memberikan makna dan nilai seni pada karya tersebut.
AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Kreativitas Manusia
Di tengah perkembangan AI yang terus berlangsung, Afif memilih pendekatan yang menurutnya lebih seimbang: menggunakan teknologi sesuai kebutuhan.
Ia tidak menolak AI. Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan ketika memang mampu membuat proses kerja menjadi lebih efektif. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap perlu dikendalikan agar tidak menghilangkan proses kreatif dan karakter manusia dalam sebuah karya.
“Teknologi boleh terus berkembang tapi pada akhirnya, AI bisa membantu menciptakan sebuah visual. Tapi, hanya manusia yang mampu memberikan makna dan nilai seni dalam sebuah foto,” tegasnya.
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah semakin mudahnya masyarakat menghasilkan gambar melalui AI. Bagi Afif, fotografi pada akhirnya bukan sekadar persoalan menciptakan gambar yang indah, tetapi bagaimana sebuah visual mampu mengabadikan pengalaman, cerita, dan perasaan.
25 Tahun Mengabadikan Cerita Lewat Fotografi
Afif Nur Efendi telah menekuni dunia fotografi sejak awal 2000-an. Selama lebih dari 25 tahun, ia menggeluti berbagai bidang fotografi, mulai dari human interest, commercial and branding, fashion, profile portrait, pet, hingga event dan documentary.
Selain berkiprah sebagai fotografer profesional, Afif juga merupakan Co-Founder sekaligus Creative Director PT Temara Media Republik. Perusahaan tersebut didirikannya bersama Tedja Somantri dan Rai Tedja Sukmana dengan fokus pada layanan fotografi, videografi, digital marketing, dan media.
Melalui perusahaan tersebut, Afif membuka ruang kolaborasi dalam menghadirkan cerita melalui karya visual bagi kebutuhan individu maupun korporasi.
Baginya, perkembangan teknologi seharusnya tidak menghilangkan esensi utama fotografi: mengabadikan cerita manusia.
Sebab, sebuah karya visual pada akhirnya tidak hanya dinilai dari estetika, tetapi juga dari makna dan “rasa” yang mampu ditinggalkannya kepada orang yang melihat.