Evaluasi Kritis Peringatan Hari Anak Nasional

NN Newsroom

Kamis, 23 Juli 2026

Spektrum bahasan

LAJU modernisasi yang hiper-akseleratif kerap menimbulkan anomali pedagogis, dimana anak-anak tumbuh dengan akses informasi yang tak terbatas, namun mengalami kemiskinan makna dan krisis kesehatan mental.

Momentum peringatan Hari Anak Nasional (HAN) pada hari ini, Kamis, 23 Juli 2026, yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” menantang kita untuk melakukan evaluasi kritis terhadap ekosistem pendidikan kontemporer.

Perlindungan anak tidak boleh dimaknai secara sempit sebatas perlindungan fisik dari kekerasan, melainkan juga perlindungan epistemik, yakni menjaga pikiran, emosi, dan jiwa anak dari kebingungan nilai di tengah riuhnya arus informasi.

Dari kacamata epistemologi Islam, pendidikan anak merupakan proses penyempurnaan potensi fitrah manuisa secara seimbang antara akal (‘aql), hati (qalb), dan jasad (jasad). Pendidikan yang mereduksi anak sekadar sebagai calon tenaga kerja mesin industri adalah bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan anak itu sendiri.

Nilai keislaman mengajarkan bahwa anak adalah amanah yang harus dibimbing menuju kemandirian berpikir dan keluhuran budi pekerti. Ketika dipadukan dengan nilai keindonesiaan, tujuan pendidikan ini mengerucut pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkarakter Pancasila.

Di titik krusial inilah peran pedagogis pesantren menemukan urgensi historisnya. Pesantren menawarkan metodologi pembelajaran berkedalaman (deep learning) melalui tradisi sorogan dan bandongan, yang menekankan ketelitian, keteladanan (uswah hasanah), serta sanad keilmuan yang jelas.

Di saat dunia luar mengalami krisis figur keteladanan akibat fenomena manipulasi media sosial, pesantren menghadirkan figur Kyai dan Ustadz sebagai muara keteladanan moral yang hidup secara konkrit di tengah para santri.

Pendidikan pesantren berhasil membuktikan bahwa tradisionalisme tidak berselisih dengan kemajuan. Dengan mengadopsi teknologi tanpa mengorbankan akar tradisi, pesantren berhasil melahirkan SDM yang memiliki imunitas mental, kecerdasan emosional yang matang, serta literasi spiritual yang tinggi.

Peringatan HAN 2026 harus menjadi titik balik artikulasi pendidikan nasional untuk mengadopsi esensi pedagogi pesantren, bahwa membangun masa depan anak Indonesia bukan sekadar memfasilitasi mereka dengan teknologi canggih, melainkan memberikan mereka fondasi nilai yang tidak goyah diguncang perubahan zaman.[]

EDITORIAL NASIONAL.NEWS

TERKAIT LAINNYA