JAKARTA – Pasar logam mulia global tengah menunjukkan volatilitas yang signifikan, menyerupai gerak roller coaster. Setelah sempat mencatatkan kenaikan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya, harga emas dunia kini justru berbalik arah dan mengalami koreksi yang cukup dalam pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Pergerakan yang fluktuatif ini dipicu oleh pergeseran ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat serta dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Berdasarkan data pasar terbaru, harga emas di pasar spot terpantau mengalami penurunan tajam ke level US$ 2.715,45 per ons troi. Angka ini menunjukkan pelemahan yang kontras dibandingkan posisi puncaknya pada awal pekan yang sempat mendekati level psikologis baru. Penurunan ini mengakhiri reli singkat yang sempat memberikan harapan bagi para pelaku pasar mengenai penguatan berkelanjutan logam mulia di awal tahun 2026.
Analisis Pergerakan Harga: Dari Puncak ke Dasar
Kondisi pasar emas saat ini menggambarkan ketidakpastian yang tinggi. Pada sesi sebelumnya, emas sempat terbang tinggi didorong oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakstabilan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar dolar AS. Namun, sebagaimana dilaporkan oleh CNBC Indonesia Research, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena aksi ambil untung (profit taking) yang masif dilakukan oleh para investor.
“Harga emas bergerak bak roller coaster; melonjak tinggi kemudian jatuh secara tiba-tiba dalam waktu singkat,” tulis laporan tersebut pada Selasa (10/2). Fenomena ini jamak terjadi di pasar komoditas ketika harga telah mencapai titik jenuh beli, sehingga memicu gelombang penjualan untuk mengamankan keuntungan yang telah diraih.
Koreksi ini juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja dan tingkat inflasi yang masih berada di atas target bank sentral. Kondisi ini memberikan amunisi bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap hawkish, atau setidaknya menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Faktor-Faktor Utama Pemicu Volatilitas
Sedikitnya terdapat tiga faktor fundamental yang menyebabkan harga emas bergerak liar dalam 24 jam terakhir:
1. Data Inflasi dan Kebijakan The Fed Faktor utama yang menekan harga emas adalah prospek suku bunga. Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Oleh karena itu, ketika suku bunga tetap tinggi, biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi meningkat. Investor cenderung beralih kembali ke aset-aset yang menawarkan imbal hasil tetap seperti obligasi pemerintah AS (Treasury) yang imbal hasilnya kembali menanjak.
2. Indeks Dolar AS (DXY) yang Menguat Terdapat korelasi negatif yang kuat antara emas dan dolar AS. Saat data ekonomi AS menunjukkan performa yang solid, indeks dolar cenderung menguat. Hal ini membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan global dan akhirnya menurunkan harga.
3. Meredanya Ketegangan Geopolitik Sesaat Meskipun ketidakpastian politik masih membayangi beberapa wilayah, adanya sinyal diplomasi atau stabilitas sementara dalam konflik global sering kali mengurangi status emas sebagai aset safe haven. Para investor yang sebelumnya memburu emas sebagai pelindung nilai mulai mendistribusikan modal mereka kembali ke aset-aset berisiko (risk-on) seperti saham.
Dampak Terhadap Pasar Domestik dan Emas Antam
Fluktuasi harga emas global secara otomatis memberikan tekanan pada harga emas domestik, terutama emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Meski pada pembukaan pagi ini harga emas Antam sempat mencatatkan kenaikan tipis berdasarkan data sisa perdagangan kemarin, namun penurunan tajam di pasar spot global diprediksi akan segera tercermin pada harga perdagangan esok hari.
Selisih harga (spread) yang lebar antara harga jual dan harga beli kembali (buyback) di pasar domestik menambah kompleksitas bagi investor ritel. Di tengah pergerakan yang tidak menentu ini, investor disarankan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi beli besar-besaran.
Proyeksi Teknis dan Psikologis Pasar
Secara teknikal, harga emas kini tengah menguji level dukungan (support) kuat di kisaran US$ 2.700 per ons troi. Jika level ini tertembus, ada kemungkinan harga akan merosot lebih jauh menuju area US$ 2.650. Namun, jika sentimen ketidakpastian kembali mencuat, emas berpotensi melakukan rebound menuju level resistensi di US$ 2.750.
Para analis di CNBC Indonesia Research menekankan bahwa volatilitas ini adalah bagian dari normalisasi pasar setelah penguatan yang sangat signifikan sepanjang tahun 2025 lalu. “Pasar sedang mencari titik keseimbangan baru. Kenaikan yang terlalu cepat tanpa dukungan fundamental yang kokoh sering kali diikuti oleh koreksi yang sama tajamnya,” ungkap laporan tersebut.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Bagi para investor jangka panjang, fluktuasi “roller coaster” ini sebenarnya dapat dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi secara bertahap (dollar cost averaging). Namun, bagi pelaku pasar jangka pendek atau trader, kondisi ini menuntut manajemen risiko yang sangat ketat.
Disarankan bagi para pelaku pasar untuk tetap memperhatikan agenda ekonomi penting minggu ini, termasuk rilis data belanja konsumen dan pidato pejabat bank sentral, yang dipastikan akan menjadi penggerak arah pasar selanjutnya.
Harga emas tetap menjadi barometer utama kesehatan ekonomi global. Meskipun saat ini tengah mengalami fase jatuh setelah lonjakan tinggi, peran emas sebagai instrumen pelindung nilai jangka panjang tetap tidak tergantikan. Kejadian hari ini menjadi pengingat bagi para investor bahwa komoditas tidak pernah bergerak dalam satu garis lurus, dan pemahaman mendalam mengenai sentimen global adalah kunci dalam menavigasi pasar logam mulia yang dinamis.
