Menag Tegaskan Peran Strategis Imam Masjid sebagai Penggerak Pemberdayaan Umat

NN Newsroom

Selasa, 4 Agustus 2026

Menag Nasaruddin Umar di acara Tabligh Akbar Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu, 2 Agustus 2026 (Foto: Dok. Kemenag.go.id)

SURABAYA, NASIONAL.NEWS — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peran imam masjid kini semakin strategis. Tidak lagi terbatas memimpin salat berjamaah, imam juga diharapkan mampu menggerakkan fungsi sosial masjid sehingga menjadi pusat pelayanan masyarakat, pemberdayaan umat, sekaligus penyebaran nilai-nilai perdamaian.

Gagasan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026), yang diikuti sekitar 20.000 jamaah.

Menurut Nasaruddin, penguatan peran imam tidak dapat dipisahkan dari transformasi fungsi masjid yang harus terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan bahwa masjid semestinya menjadi institusi yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan sosial, kemanusiaan, hingga pembangunan bangsa.

“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai paradigma mengenai masjid perlu diubah. Selama ini masyarakat kerap memandang masjid hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, padahal dalam sejarah Islam, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

“Bukan umat yang memberdayakan masjid, tetapi masjid yang memberdayakan umat,” tegasnya.

Sebagai contoh, Kementerian Agama bersama berbagai pihak telah mengembangkan pemanfaatan ribuan masjid sebagai posko pelayanan masyarakat selama arus mudik. Sedikitnya 6.000 masjid di berbagai daerah difungsikan sebagai tempat beristirahat, memperoleh layanan informasi, hingga fasilitas pendukung bagi para pemudik.

Masjid sebagai Rumah Besar Kemanusiaan

Masih dalam arahannya, menurut Nasaruddin, perluasan fungsi tersebut sejalan dengan praktik yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pada masa awal Islam, Masjid Nabawi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyelenggaraan pemerintahan, musyawarah, pendidikan, hingga penyelesaian berbagai persoalan sosial masyarakat.

“Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan-persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan,” katanya.

Semangat tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada September mendatang.

Forum internasional itu ditargetkan menghadirkan sekitar 400 imam besar dari berbagai negara untuk memperkuat jejaring, berbagi pengalaman dalam pengelolaan masjid, serta memperluas peran imam sebagai agen perdamaian.

Menteri Agama menyebut sejumlah tokoh agama dunia telah diundang, di antaranya Imam Besar Masjidil Haram Sheikh Abdulrahman Al-Sudais, Grand Sheikh Al-Azhar, serta para imam dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan berbagai negara lainnya.

Melalui forum tersebut, Indonesia diharapkan semakin dikenal sebagai rujukan pengelolaan masjid yang tidak hanya berorientasi pada ibadah, tetapi juga menjadi pusat pelayanan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan harmoni sosial di tingkat global.

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version