Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular Dinilai Kunci Menjawab Tantangan Lingkungan

NN Newsroom

Minggu, 26 Juli 2026

JAKARTA, NASIONAL.NEWS — Farid Aulia Rahman, Koordinator Lokal Climate Fresk Indonesia sekaligus Co-Founder Kertabumi, menegaskan bahwa mekanisme Bank Sampah merupakan instrumen utama dalam membangun ekonomi sirkular yang mampu mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi.

Menurutnya, sistem tersebut bukan hanya berorientasi pada pengurangan timbulan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Gagasan tersebut disampaikan Farid dalam webinar bertajuk Mengubah Sampah Jadi Emas yang diselenggarakan Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (IKA-STIE) Hidayatullah, Ahad (26/7/2026).

Dalam forum yang dimoderatori Ketua IKA-STIE Hidayatullah Syamsuddin itu, Farid memaparkan tantangan pengelolaan limbah sekaligus peluang membangun sistem yang lebih berkelanjutan melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.

“Bank Sampah menjadi instrumen utama dalam ekonomi sirkular karena mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya, kemudian menghubungkannya dengan rantai daur ulang yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Farid membuka paparannya dengan menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga krisis besar yang saling berkaitan, yakni perubahan iklim, pencemaran akibat limbah dan sampah, serta terus berkurangnya keanekaragaman hayati.

Menurutnya, ketiga persoalan tersebut menuntut perubahan cara pandang terhadap sampah, dari sesuatu yang dianggap beban menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Ia mengutip data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2026 yang menunjukkan timbulan sampah di Indonesia telah mencapai sekitar 24,88 juta ton per tahun. Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 35 persen yang berhasil dikelola, sehingga masih terdapat ruang yang sangat besar untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah nasional.

Bangun Budaya Pemilahan Sampah

Lebih jauh, Farid juga menjelaskan bahwa sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah, dengan dominasi berupa sisa makanan dan sampah plastik.

Kondisi tersebut, menurutnya, memperlihatkan pentingnya membangun budaya pemilahan sampah sejak dari lingkungan keluarga agar proses pengolahan berikutnya menjadi lebih efektif.

Ia menambahkan, hingga tahun 2026 Indonesia telah memiliki lebih dari 27 ribu Bank Sampah yang tersebar di berbagai daerah. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah untuk ditimbang, dicatat sebagai tabungan, lalu disalurkan kepada industri daur ulang sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Farid menekankan bahwa strategi keberlanjutan harus mampu mempertemukan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

“Melalui pendekatan yang tepat, masyarakat dapat menerapkan prinsip ‘ubah sampah jadi berkah’ sehingga pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version