Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Muslimat Hidayatullah Jawa Tengah resmi dibuka pada 16 Mei 2026/28 Dzulqaidah 1447 H di Kota Semarang dengan mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Muslimat Hidayatullah yang Mandiri dan Berpengaruh.” Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menguatkan sinergi dan konsolidasi organisasi.
Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Tengah, Tri Wahyu Prihati, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran Muslimat Hidayatullah di dunia pendidikan sebagai wadah melahirkan generasi berkualitas. Beliau menyampaikan harapan besar agar ke depan lahir taman kanak-kanak baru di berbagai wilayah Jawa Tengah, sekaligus mengembangkan TK yang telah berdiri menjadi lembaga pendidikan yang maju, unggul, dan berkualitas.
“Kami berharap Muslimat Hidayatullah mampu terus menghadirkan lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berkualitas. Tidak hanya menumbuhkan TK baru di Jawa Tengah, tetapi juga mengembangkan TK yang sudah ada menjadi TK yang maju, unggul, dan berkualitas,” ujarnya.
Mewakili Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah, Ketua Bidang Organisasi PP Muslimat Hidayatullah, Wulan Sari menjelaskan bahwa Mushida sebagai subjek utama memiliki peran sentral dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
“Transformasi organisasi harus memberi ruang untuk tampil mandiri namun tetap menjaga kultur yang menjadi diri Hidayatullah,” ujarnya.
Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas muslimat untuk menopang kemandirian. Bekal jati diri akan memberikan semangat dan bekal dalam menjalankan tata kelola organisasi yang baik.
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ahmad Ali Subur, menekankan tentang sandwich leadership atau kepemimpinan yang mampu menjembatani generasi senior dan junior dalam organisasi. Menurutnya, menjembatani dua generasi bukan sekadar mengelola perbedaan usia, tetapi merawat kesinambungan organisasi.
“Generasi senior memberikan akar dan keteguhan nilai, sedangkan generasi junior menghadirkan pertumbuhan dan pembaruan. Ketika keduanya dipertemukan dengan komunikasi yang bijak, saling menghormati, dan visi yang sama, organisasi akan menjadi lebih kuat, harmonis, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, beliau juga menyampaikan analogi tentang tali busur dan anak panah sebagai gambaran hubungan antargenerasi dalam kepemimpinan. Generasi senior dianalogikan sebagai busur dan tali yang berfungsi memberi arah, tenaga, keseimbangan, dan kekuatan. Sementara generasi junior adalah anak panah yang melesat jauh membawa tujuan menuju sasaran.
“Tanpa busur dan tali yang kuat, anak panah tidak akan memiliki daya dorong dan arah yang tepat. Namun tanpa anak panah, busur tidak akan menghasilkan gerakan dan capaian,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa tugas generasi senior bukan menahan anak panah tetap berada di genggaman, melainkan menyiapkan, menguatkan, lalu melepaskan generasi berikutnya agar mampu melesat lebih jauh dalam perjuangan dakwah dan pengabdian kepada umat.




