Rakerwil Mushida Bengkulu Perkuat Konsolidasi dan Transformasi Organisasi

NN Newsroom

Jumat, 15 Mei 2026

Spektrum bahasan

BENGKULU — Muslimat Hidayatullah memiliki posisi strategis sebagai subjek utama dalam pembangunan keluarga dan masyarakat. Penegasan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Muslimat Hidayatullah Bengkulu yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu pada Kamis (14/5/2026).

Kegiatan ini diikuti 25 peserta dari sejumlah Pengurus Daerah, di antaranya PD Benteng, PD Kepahiang, PD Rejang Lebong, PD Lebong, PD Kota Bengkulu, PD Seluma, PD Putri Hijau, dan PD Mukomuko.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Bengkulu, Kursiah, mengatakan forum tersebut menjadi ruang konsolidasi organisasi sekaligus penguatan jati diri kader dalam menghadapi dinamika dakwah dan perubahan sosial yang terus berkembang.

Ia menyampaikan bahwa peran muslimah dalam keluarga dan organisasi membutuhkan kesiapan mental, spiritual, dan dukungan keluarga yang kuat.

“Sebagai seorang istri, ibu, dan pendidik bukanlah sesuatu yang mudah. Jika suami ridha, itu merupakan modal yang besar dalam berorganisasi,” ujarnya.

Ia berharap kebersamaan dalam Rakerwil menjadi penguat semangat dakwah dan pengabdian organisasi.

“Mudah-mudahan kebersamaan hari ini bisa membangkitkan semangat dalam menjalankan amanah,” tambahnya.

Transformasi Organisasi

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Arsyis Musyahadah, yang mewakili Ketua Umum, Hani Akbar, menekankan pentingnya transformasi organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.

“Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya menuntut organisasi untuk adaptif. Transformasi bukan sekadar restrukturisasi, tetapi juga reorientasi strategi tarbiyah dan dakwah dalam mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi,” jelasnya.

Menurutnya, Muslimat Hidayatullah memiliki posisi penting dalam pembangunan keluarga, pendidikan, dan masyarakat sehingga organisasi harus memberi ruang yang luas bagi muslimah untuk menjalankan peran kepemimpinan dan dakwah secara mandiri.

“Muslimah memiliki peran sentral dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat. Transformasi organisasi harus memberi ruang bagi Muslimat Hidayatullah untuk tampil sebagai aktor mandiri dalam mengelola organisasi namun tetap menjaga kultur yang memegang teguh jati diri Hidayatullah,” ungkapnya.

Dalam sesi materi bertajuk Konsolidasi Jati Diri, Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ahmad Suhail, mengajak peserta meneladani sirah Nabi dalam menjalankan perjuangan Islam.

“Berislam harus mengikuti siroh Nabi. Sejak awal diturunkannya Surah Al-‘Alaq sudah mengandung semangat pembaharuan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Saat mengalami kesulitan dalam hidup, bacalah Al-Qur’an agar kita bisa berdialog dengan Allah,” katanya.

Menurutnya, penguatan ilmu, akhlak, dan kerendahan hati menjadi fondasi penting dalam menjaga keteguhan perjuangan.

“Jika ingin kokoh, bekali diri dengan ilmu dan akhlak. Jangan sampai kita lupa diri karena nikmat yang diberikan Allah,” pesannya.

Pada sesi penutupan, Bendahara Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Rahmah El-Halimiyah, menyampaikan bahwa Rakerwil merupakan titik awal pelaksanaan program organisasi secara konkret dan berkelanjutan.

“Rakerwil adalah titik awal menuju program kerja yang akan kita laksanakan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap program organisasi harus diarahkan untuk membentuk muslimah yang salehah, berdaya, serta menghadirkan dakwah yang menenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

TERKAIT LAINNYA