NASIONAL.NEWS (JAKARTA) — Kegiatan bedah buku berjudul Beginilah Rasulullah Mengkader Ummat karya Dr. KH. Nashirul Haq Marling, Lc., MA. sukses diselenggarakan pada Senin, 27 April 2026, di Gedung Dakwah Pusat Hidayatullah, Cipinang, Jakarta. Acara ini menghadirkan Dr. KH. Adian Husaini, M.Si. sebagai narasumber pembanding.
Dalam pemaparannya, penulis buku, Dr. KH. Nashirul Haq Marling, menjelaskan bahwa istilah tarbiyah yang digunakan dalam bukunya memiliki makna yang sangat mendalam dan mendasar dalam Islam.
“Jika kita menelaah Al-Qur’an dan Sunnah, kita dapat menyimpulkan bahwa misi utama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah tarbiyah dan dakwah, ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tarbiyah bukan sekadar pendidikan dalam arti sempit, melainkan proses pembinaan menyeluruh yang mencakup lahir dan batin.
“Tarbiyah berfokus pada pembentukan kepribadian muslim secara utuh, meliputi aspek spiritual (ruhiyah), intelektual (aqliyah), fisik (jismiyah), sosial (ijtima’iyah), hingga keterampilan (riyadhiyah),” jelasnya.
Pendidikan dan Dakwah
Nashirul Haq kemudian menekankan pentingnya menyiapkan generasi masa depan melalui pendidikan yang terarah dan berkarakter.
Menurutnya, perubahan besar umat tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam membina generasi sejak usia dini.
Siapa yang kita siapkan jadi pemimpin 20 tahun lagi? ujarnya, mengajak peserta untuk berpikir strategis dalam menyiapkan kepemimpinan masa depan.
Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda, sehingga tugas utama pendidik adalah menggali dan mengarahkan potensi tersebut agar melahirkan sosok yang jujur, pekerja keras, berani, tidak sombong, dan penyayang.
Konsep tersebut, lanjutnya, sejalan dengan misi Rasulullah dalam membangun umat melalui pembinaan akhlak. Metode pendidikan Rasulullah mencakup tilawah (membacakan ayat), tazkiyah (menyucikan jiwa), dan ta’lim (mengajarkan ilmu), sebagai fondasi dalam membentuk generasi unggul.
Individu Mandiri dan Cakap Memimpin
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta, Ust. Muhammad Yarif Yahya dari Samarinda, memberikan pandangan kritis terkait implementasi konsep tersebut. Ia menyoroti pentingnya menerjemahkan gagasan besar tarbiyah ke dalam langkah yang lebih konkret, seperti kurikulum pembinaan di berbagai jenjang, sistem mentoring, atau ekosistem komunitas yang relevan dengan generasi sekarang.
Ia juga menekankan bahwa tujuan kaderisasi tidak boleh berhenti pada pembentukan pengikut semata, melainkan harus melahirkan individu yang mandiri dan mampu memimpin perubahan.
“Apakah tujuan kaderisasi hari ini masih sebatas mencetak loyalis, atau sudah mengarah pada individu yang mandiri, kritis, dan mampu memimpin perubahan seperti para sahabat,” tambahnya.
Dampak Kemajuan
Di sisi lain, panitia kegiatan yang juga bertindak sebagai moderator, Imam Nawawi, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana, melainkan mampu memberikan dampak nyata.
Ia berharap peserta memahami substansi perkaderan secara mendalam sekaligus mampu menjembatani kesenjangan dengan realitas kekinian, di mana tantangan mengader generasi menghadapi kompleksitas yang semakin tinggi.
Orientasi Karakter: Akan Jadi Apa
Sebagai penutup diskusi, Dr. Adian Husaini kembali menegaskan bahwa pembinaan generasi harus berorientasi pada pembentukan karakter dan kompetensi, bukan sekadar formalitas pendidikan. “Pendidikan anak itu bukan sekadar kuliah di mana, tapi akan jadi apa,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan masa depan umat harus dimulai dari pendidikan generasi, bukan hanya dari aspek struktural semata. “Kalau ingin masa depan umat berubah, maka mulai dari mendidik generasi. Inilah proyek 20 tahun yang paling realistis dan berdampak besar,” pungkasnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, dai, hingga praktisi pendidikan, guna menguatkan kesadaran kolektif untuk menjadikan tarbiyah sebagai fondasi dalam mencetak pemimpin masa depan.*/Jumardi
