BANYAK orang membaca Al-Qur’an setiap hari, mungkin termasuk kita semua. Namun, sedikit yang merasakan perubahan nyata dalam karakter dan ketenangan batin. Mengapa itu terjadi? Sebagian dari mereka masih ada yang tidak bersyukur, pesimis, bingung dan memandang sistem hidup di luar Al-Qur’an sebagai jaminan.
Mungkin saja itu karena cara kita yang belum tepat. Sebagian dari orang sering terjebak pada mengejar target khatam, tetapi melupakan esensi utama dari kitab suci ini. Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili dan Ustadz Firanda Andirja menekankan bahwa kekuatan Al-Qur’an terletak pada tadabbur, bukan sekadar lisan yang fasih dalam melantunkannya.
Al-Qur’an Adalah Dialog Langsung dengan Allah
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili mengingatkan kita untuk menyadari satu hakikat besar: Allah sedang mengajak kita bicara melalui Al-Qur’an. Saat saya dan teman-teman membaca ayat-ayat-Nya, janganlah terburu-buru. Hayati setiap kata seolah-olah pesan itu turun khusus untuk kita saat ini.
Bayangkan kita menerima sepucuk surat cinta atau pesan penting dari seseorang yang sangat kita kagumi dan hormati, namun kita hanya membacanya dengan kecepatan kilat tanpa memahami isinya demi mengejar jumlah halaman.
Tentu pesan tersebut menjadi hambar dan sia-sia karena kita telah kehilangan esensi rasa dan instruksinya. Begitu pula dengan Al-Qur’an; membacanya tanpa tadabbur seperti orang yang memegang botol obat mujarab saat sakit, namun ia hanya sibuk mengeja label kemasannya berkali-kali tanpa pernah meminum isinya untuk menyembuhkan luka di dalam dada.
Merespons Perintah dan Larangan
Ketika kita menemukan ayat perintah, berhentilah sejenak. Perhatikan instruksi tersebut dengan saksama. Pujilah Allah karena Dia masih membimbing kepada kita. Sebaliknya, jika kita membaca ayat larangan, lakukan introspeksi diri. Tanyakan pada hati sendiri, “Apakah aku masih melakukan dosa yang Allah larang ini?”
Inilah cara mengambil pelajaran yang nyata agar Al-Qur’an tidak sekadar menjadi hiasan rak buku.
Mengobati Penyakit Hati Melalui Surah Yunus Ayat 57
Al-Qur’an adalah obat (syifa). Ustadz Firanda Andirja menjelaskan berdasarkan Surah Yunus ayat 57 bahwa Al-Qur’an datang sebagai nasihat dan penyembuh bagi penyakit dada. Hati manusia sering kali terinfeksi penyakit hasad, dengki, dan kesombongan.
Fenomena gangguan kesehatan mental yang marak saat ini, seperti kecemasan berlebih (anxiety) dan kekosongan jiwa, sering kali berakar dari hilangnya pegangan batin di tengah gempuran dunia yang serba cepat.
Secara psikologis, manusia membutuhkan “sauh” atau pengait agar tidak terombang-ambing oleh ekspektasi dan tekanan sosial. Ketika Al-Qur’an diposisikan sebagai syifa (obat), ia bekerja melampaui logika medis dengan cara membedah akar penyakit mental: ego yang terlalu besar (kesombongan) dan rasa tidak puas atas pencapaian orang lain (hasad).
Tadabbur menjadi bentuk terapi kognitif spiritual yang mengubah cara pandang kita terhadap masalah; dari melihat beban sebagai kutukan, menjadi melihatnya sebagai dialog pribadi dengan Allah yang mendatangkan ketenangan (thuma’ninah).
Tanpa koneksi spiritual ini, kesehatan mental hanya akan diobati di permukaan, sementara akarnya tetap rapuh dan mudah patah saat badai hidup menerjang.
Langkah Praktis Tadabbur untuk Pemula
Membaca Al-Qur’an memang mendatangkan pahala dan keberkahan. Namun, tujuan utamanya adalah agar kita memahami, menikmati, dan mengamalkannya. Berikut adalah panduan efektifnya:
- Baca satu halaman Al-Qur’an dengan tartil.
- Baca terjemahannya secara perlahan.
- Luruskan niat semata-mata untuk mencari hidayah (petunjuk).
Tadabbur tidak harus serumit tafsir ulama besar bagi orang awam. Memahami arti dan merenungkan pesan di balik terjemahan sudah merupakan langkah awal yang melembutkan hati yang keras.
Berhenti Menjadi Orang yang Rugi
Sangat ironis jika seseorang mampu menghabiskan waktu berjam-jam membaca berita olahraga, ekonomi, hingga kriminal, namun tidak mampu menyisihkan waktu untuk Al-Qur’an. Kita sering merasa “paham” dunia, tetapi buta terhadap pesan Sang Pencipta. Apakah ini bukan kerugian?
Oleh karena itu jangan biarkan hari kita berlalu tanpa “mendengar” suara Allah. Al-Qur’an telah dimudahkan untuk kita pikirkan. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita sendiri: tetap membiarkan hati gersang atau mulai membasuhnya dengan tadabbur yang tulus.
Sekarang kalau bertemu senja, tanyakan ke diri sendiri, ayat apa yang telah saya pahami dengan mentadabburinya dan akan saya jadikan sikap mental dalam keseharian saya.*
*) Mas Imam Nawawi, penulis kolumnis Nasional.news
