DUNIA hari ini bergerak dengan ritme yang nyaris seragam. Kita dikejar oleh tenggat waktu kuartal, target tahunan kalender Masehi, dan dinamika global yang serba cepat.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, penanggalan Hijriyah sering kali datang dan pergi tanpa perayaan yang berarti—paling-paling hanya ditandai sebagai hari libur nasional di kalender kerja kita.
Namun, mengerdilkan Tahun Baru Hijriyah sekadar sebagai pergantian angka di kalender adalah sebuah kerugian besar. Di balik rotasi bulan yang menandai datangnya 1 Muharam, ada urgensi spiritual dan historis yang sangat kita butuhkan untuk menjaga kewarasan hidup di era modern.
Secara historis, kalender Hijriyah tidak dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, melainkan dari peristiwa Hijrah—migrasi besar umat Muslim dari Mekkah ke Madinah. Mengapa? Karena Hijrah adalah titik balik (turning point) dari fase penindasan menuju fase pembangunan peradaban.
Hari ini, urgensi Tahun Baru Hijriyah terletak pada kemampuan kita menerjemahkan esensi “pindah” tersebut ke dalam konteks kekinian.
Kita tidak lagi diminta melakukan migrasi geografis, melainkan hijrah psikologis dan spiritual; memindahkan fokus dari egoisme pribadi menuju kepedulian sosial; berpindah dari kebiasaan konsumtif digital (seperti kecanduan media sosial) menuju produktivitas yang berdampak nyata; mengubah mentalitas korban (victim mentality) menjadi mentalitas pemenang yang berdaya.
Kalender Masehi mengukur produktivitas kita secara material: investasi, karier, dan pencapaian fisik. Sebaliknya, Tahun Baru Hijriyah hadir sebagai sistem pengereman darurat yang anggun. Ia memaksa kita melakukan muhasabah (audit diri).
Sudah sejauh mana kualitas kemanusiaan kita berkembang dalam setahun terakhir? Apakah hubungan kita dengan sesama manusia dan Sang Pencipta membaik, atau justru stagnan? Tanpa adanya momen jeda seperti Muharam, manusia modern berisiko menjadi robot yang terus berlari tanpa tahu arah pulang.
Sebuah bangsa atau komunitas akan kehilangan arah jika mereka melupakan sejarahnya. Penanggalan Hijriyah adalah jangkar sejarah umat Islam.
Membangun Peradaban
Menghidupkan urgensi tahun baru ini berarti merawat ingatan tentang bagaimana sebuah komunitas kecil yang terasing di padang pasir bisa membangun peradaban yang inklusif, menghargai perbedaan (melalui Piagam Madinah), dan menjunjung tinggi keadilan.
Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh polarisasi, nilai-nilai konsiliasi dari peristiwa Hijrah ini sangat mendesak untuk dihadirkan kembali.
Urgensi Tahun Baru Hijriyah pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing. Ia tidak butuh dirayakan dengan kembang api yang bising atau selebrasi yang semu. Ia menuntut keheningan, komitmen baru, dan resolusi spiritual.
Jika tahun baru ini lewat begitu saja tanpa ada satu pun kebiasaan buruk yang kita tinggalkan, maka kita hanya berganti kalender, bukan berganti kualitas diri.
Tahun ini, 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, dengan pergantian hari dimulai pada saat matahari terbenam (Magrib) di tanggal 15 Juni 2026.
Mari jadikan 1 Muharam kali ini sebagai momentum untuk benar-benar “bermigrasi” menuju versi terbaik dari diri kita. Selamat Tahun Baru Hijriyah. Selamat memulai perjalanan baru.
*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah pegiat dakwah dan pendidikan
