Menghidupkan Nilai Profetik di Tengah Kehidupan Masyarakat dan Kebangsaan

NN Newsroom

Selasa, 25 Agustus 2026

Spektrum Bahasan

asrullah pp prima dmi

Oleh Dr. Asrullah, S.H., M.H

ADA peringatan yang selesai ketika acara berakhir. Ada pula peringatan yang justru baru menemukan maknanya setelah orang-orang meninggalkan tempat acara dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya berada dalam kategori kedua. Ia bukan hanya kesempatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, melainkan ruang untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai yang beliau ajarkan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Hubungan antarmanusia diuji oleh perbedaan kepentingan, pilihan politik, latar belakang, maupun kondisi ekonomi. Dalam situasi semacam itu, keteladanan Rasulullah menawarkan dasar yang sederhana tetapi mendasar, bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada hak orang lain yang harus dihormati, ada kelompok yang perlu diperhatikan, dan ada tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan sosial tetap manusiawi.

Rasulullah memberikan perhatian besar kepada mereka yang berada dalam posisi rentan. Anak yatim, kaum lemah, tetangga, dan anggota masyarakat yang membutuhkan tidak ditempatkan sebagai persoalan yang boleh diabaikan. Kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan bersama. Masyarakat yang baik bukan hanya masyarakat yang maju secara material, melainkan masyarakat yang mampu memastikan bahwa kemajuan tidak membuat sebagian orang tertinggal dan kehilangan perhatian.

Pesan tersebut tetap relevan ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan sekarang. Semangat Maulid dapat diwujudkan melalui penguatan ukhuwah, kepedulian kepada sesama, gotong royong, dan kesediaan menjaga persatuan. Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dalam masyarakat yang beragam, kemampuan menghormati dan menguatkan satu sama lain menjadi modal penting untuk menjaga kehidupan bersama.

Dimensi Kenegaraan

Teladan Rasulullah memiliki dimensi yang lebih luas ketika dikaitkan dengan kehidupan politik dan kenegaraan. Politik dalam pandangan yang berorientasi pada kemaslahatan semestinya tidak berhenti pada persoalan siapa memperoleh kekuasaan. Kekuasaan membawa amanah untuk menghadirkan keadilan, menjaga persatuan, dan melindungi kepentingan masyarakat.

Di titik ini, prinsip musyawarah, kejujuran, keadilan, serta penghormatan terhadap perbedaan memperoleh tempat penting. Politik kehilangan maknanya ketika hanya menjadi arena perebutan pengaruh, sementara kebutuhan masyarakat ditempatkan di urutan belakang. Sebaliknya, politik dapat menjadi instrumen yang bermanfaat ketika keputusan yang diambil benar-benar diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Persoalan tersebut semakin terasa ketika masyarakat melihat bagaimana seorang pemimpin menjalankan kekuasaannya. Rasulullah menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak dibangun hanya melalui kemampuan memberikan perintah. Kepemimpinan membutuhkan integritas, keberanian, kerendahan hati, keadilan, dan kedekatan dengan masyarakat.

Seorang pemimpin tidak cukup dikenal karena kebijakan yang diumumkan dari tempatnya bekerja. Ia juga dinilai dari kesediaannya mendengar keluhan, memahami kesulitan masyarakat, serta hadir ketika orang-orang yang dipimpinnya membutuhkan pertolongan. Keteladanan memiliki kekuatan yang berbeda dari sekadar instruksi karena masyarakat dapat melihat nilai kepemimpinan itu dalam tindakan nyata.

Di sinilah peringatan Maulid menemukan hubungan langsung dengan kehidupan kebangsaan. Keteladanan Nabi tidak harus diterjemahkan secara sempit sebagai upaya meniru bentuk kehidupan pada masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah menangkap nilai yang berada di balik tindakan tersebut. Nilai kepedulian kepada manusia, keadilan dalam mengambil keputusan, keberanian memikul amanah, dan kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Nilai-nilai itu juga menjadi tantangan bagi generasi muda. Mereka bukan hanya penerima hasil pembangunan, tetapi calon penerus yang akan menentukan seperti apa kehidupan masyarakat pada masa berikutnya. Karena itu, pendidikan generasi muda tidak cukup diarahkan pada penguasaan ilmu dan keterampilan. Pengetahuan perlu berjalan bersama akhlak, kepedulian sosial, dan kesadaran bahwa setiap kemampuan membawa tanggung jawab.

Generasi yang dibutuhkan adalah generasi yang mampu memasuki ruang publik tanpa kehilangan integritas, berani mengambil peran dalam kehidupan politik tanpa menjadikan kekuasaan sebagai tujuan pribadi, serta mampu melihat persoalan masyarakat melampaui kepentingan kelompoknya sendiri. Dalam kehidupan yang semakin terbuka, kemampuan bekerja bersama orang yang berbeda menjadi sama pentingnya dengan kemampuan bersaing.

Spirit Maulid Nabi

Maulid Nabi yang kita peringati hari ini hendaknya tidak berhenti sebagai peristiwa seremonial. Ia menjadi kesempatan untuk menguji kembali hubungan antara nilai yang dikagumi dan perilaku yang dijalankan.

Mengagumi kepemimpinan Rasulullah akan memiliki makna yang lebih dalam apabila nilai kepedulian hadir dalam kehidupan sosial, keadilan hadir dalam pengambilan keputusan, dan integritas hadir ketika seseorang memegang amanah.

Sebab, membangun peradaban pada dasarnya dimulai dari cara manusia memperlakukan manusia lainnya. Negara yang kuat membutuhkan institusi yang baik, tetapi institusi tidak pernah berjalan tanpa manusia yang memiliki integritas.

Demikian pula, politik membutuhkan aturan, tetapi aturan kehilangan daya ketika tidak dijalankan dengan keadilan. Pembangunan membutuhkan generasi muda, tetapi masa depan akan rapuh jika generasi tersebut tumbuh tanpa kepedulian dan tanggung jawab.

Karena itu, makna Maulid Nabi paling jauh tidak terletak pada seberapa meriah peringatannya, melainkan pada sejauh mana keteladanan Rasulullah hidup setelah peringatannya selesai.

Di situlah nilai profetik menemukan bentuknya yang paling nyata, yakni ketika iman melahirkan kepedulian, kekuasaan melahirkan pelayanan, kepemimpinan melahirkan keadilan, dan generasi muda menjadikan integritas serta kemaslahatan sebagai dasar dalam melanjutkan pembangunan peradaban.[]

*) Dr. Asrullah, S.H., M.H., penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI)

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version