Menjaga Adab di Tengah Luka Relasi Keluarga

Mercyvano Ihsan

Minggu, 25 Januari 2026

Menjaga Adab di Tengah Luka Relasi Keluarga (Foto: Umkehrer/ Nasional.news)

DALAM kehidupan masyarakat modern, relasi antara anak dan orang tua mengalami perubahan yang cukup nyata. Arus modernisasi, perkembangan teknologi komunikasi, serta dominasi media sosial membentuk cara pandang baru tentang kebebasan dan kemandirian.

Tidak sedikit anak memaknai kedewasaan sebagai kemampuan menjaga jarak dari orang tua, bahkan memutus komunikasi dengan keluarga. Hidup mandiri sering diposisikan sebagai simbol kematangan, sementara keterikatan dengan orang tua dianggap sebagai ketergantungan yang perlu ditinggalkan.

Perubahan cara pandang ini tentu saja berimplikasi pada semakin jarangnya relasi anak dan orang tua dipahami sebagai fondasi moral.

Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks ketika hubungan keluarga sejak awal tidak berjalan secara sehat. Sebagian anak tumbuh dengan pengalaman masa kecil yang menyisakan luka, konflik yang berkepanjangan, atau pola asuh yang minim kehangatan dan dialog.

Dalam situasi seperti ini, keinginan untuk menjaga jarak kerap muncul sebagai mekanisme perlindungan diri. Jarak tidak selalu dimaknai sebagai penolakan terhadap orang tua, melainkan sebagai upaya menghindari trauma yang belum terselesaikan. Fakta ini menunjukkan bahwa dinamika relasi keluarga tidak selalu berada dalam kondisi ideal.

Relasi Anak dan Orangtua dalam Islam

Meski demikian, dalam ajaran Islam, adanya jarak emosional tidak secara otomatis membenarkan sikap durhaka. Islam memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku anak terhadap orang tua.

Tindakan seperti membentak, merendahkan, atau memperlakukan orang tua dengan nada meremehkan dipandang sebagai bentuk pelanggaran adab yang serius. Penempatan durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar menunjukkan bahwa relasi anak dan orang tua memiliki kedudukan moral yang sangat penting.

Relasi ini tidak hanya bersifat personal, tetapi menjadi bagian dari tatanan etika yang menjaga keberlangsungan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, adab tidak dipahami sekadar sebagai aturan formal perilaku, melainkan sebagai proses pembentukan kesadaran moral. Adab melatih pengendalian emosi, menata respons terhadap konflik, dan menjaga agar relasi kemanusiaan tidak runtuh oleh luapan perasaan sesaat.

Lebih jauh lagi, Islam sejak awal telah menempatkan adab sebagai instrumen yang menjaga kualitas relasi, bahkan ketika hubungan berada dalam kondisi yang tidak harmonis.

Pada saat yang sama, Islam juga mengakui bahwa kezaliman tidak selalu datang dari luar diri anak. Dalam sejumlah kasus, orang tua justru menjadi sumber luka melalui kekerasan verbal, sikap otoriter, kontrol berlebihan, atau pengabaian yang berlangsung lama. Realitas ini diakui dalam literatur keislaman sebagai bagian dari dinamika manusiawi.

Dalam batas tertentu, Islam bahkan menegaskan bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal yang bertentangan dengan ketaatan kepada Tuhan. Ketika orang tua memerintahkan sesuatu yang melanggar prinsip dasar keimanan, seperti mengajak kepada kesyirikan, perintah tersebut tidak dibenarkan untuk diikuti.

Namun, penolakan terhadap perintah yang salah tetap dibingkai dengan adab. Islam mengajarkan agar sikap kritis disampaikan melalui cara yang santun, nasihat yang baik, dan bahasa yang tidak melukai martabat.

Hal itu menegaskan bahwa adab tidak dimaksudkan untuk membenarkan kezaliman, tetapi untuk menjaga keseimbangan antara ketaatan, penggunaan akal sehat, dan keadilan moral.

Dalam posisi ini, anak tidak dituntut untuk mengorbankan iman atau harga dirinya, sekaligus tidak dibenarkan merespons dengan perilaku yang merusak nilai kemanusiaan.

Dimensi Spiritual dan Kemanusiaan

Dari keseluruhan gambaran tersebut, relasi anak dan orang tua dalam Islam tidak disederhanakan dalam kategori hitam dan putih. Adab kepada orang tua tidak hadir untuk menutup mata terhadap luka, trauma, atau ketidakadilan yang mungkin terjadi.

Sebaliknya, adab berfungsi sebagai pagar moral agar respons anak tidak jatuh pada sikap yang memperparah kerusakan relasi.

Disinilah adab hadir menjadi ruang penyeimbang antara menjaga martabat diri, mempertahankan iman, dan tetap menghormati orang tua sebagai bagian dari struktur moral yang lebih luas.

Dengan demikian, adab kepada orang tua dalam Islam dapat dipahami sebagai fondasi etika yang mengikat dimensi spiritual dan kemanusiaan. Ia menjaga agar relasi keluarga tidak semata diatur oleh emosi atau pengalaman personal, tetapi tetap berada dalam koridor nilai yang menumbuhkan kasih sayang, kesadaran diri, dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks masyarakat modern yang terus berubah dan kita berada di dalamnya, prinsip ini menunjukkan relevansinya sebagai pedoman yang menata relasi paling dasar dalam kehidupan manusia.[]

*) Mercyvano Ihsan, penulis adalah pelajar dan reporter magang pratama Nasional.news.

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version