Muslimat Hidayatullah Riau Siap Bertransformasi dan Perkuat Jati Diri

Arsyis Musyahadah l

Minggu, 17 Mei 2026

Spektrum bahasan

Dumai, Riau — Muslimat Hidayatullah Riau menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada 16 Mei 2026/ 28 Dzulqa’dah 1447 H di Kampus Madya Hidayatullah Dumai, Riau.

Rakerwil ini menjadi forum strategis dalam memperkuat konsolidasi organisasi, menyelaraskan arah perjuangan, serta merumuskan program kerja yang adaptif terhadap tantangan zaman. Mengusung semangat penguatan jati diri dan transformasi organisasi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan langkah-langkah nyata bagi kemajuan dakwah dan pemberdayaan umat.

Mewakili Ketua Umum PP Mushida, Ketua Departemen Keputrian PP Mushida, Mutiah Najwati, S.H.I., M.Pd., dalam arahannya menyampaikan bahwa Rakerwil merupakan forum tertinggi di lingkungan Mushida yang memiliki nilai penting dalam melakukan konsolidasi jati diri organisasi.

“Sejak awal berdiri, Hidayatullah menekankan pembinaan aqidah dan pendidikan berbasis Al-Qur’an sebagai sarana pembentukan kader. Karena itu, konsolidasi jati diri harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi tidak hanya menyangkut identitas organisasi, tetapi juga penguatan tradisi tarbiyah dan kepemimpinan berbasis keteladanan Rasulullah SAW.

Selain itu, ia menekankan pentingnya transformasi organisasi di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang berlangsung sangat cepat.

Muslimat Hidayatullah memiliki peran sentral dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat sehingga transformasi organisasi harus memberi ruang bagi muslimah untuk tampil sebagai aktor mandiri tanpa kehilangan kultur dan jati diri organisasi.

“Kemandirian organisasi harus dibangun melalui penguatan kapasitas finansial, intelektual, dan jaringan sosial yang kuat, sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata dalam pendidikan dan pemberdayaan umat,” terangnya.

Sementara itu, Ketua PW Muslimat Hidayatullah Riau, Marhamah, S.Pd.I., dalam sambutannya mengajak seluruh pengurus untuk tidak meremehkan amanah sekecil apa pun dalam organisasi.

Ia berharap seluruh program yang disusun dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam penguatan keluarga sesuai visi perjuangan Mushida.

“Amanah ini jangan dianggap sebagai beban, karena amanah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Dengan amanah, Allah memberi peluang kepada kita untuk terus meminta pertolongan-Nya agar setiap kerja dakwah bernilai pahala dan keberkahan,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh kader untuk meneladani pengorbanan Khadijah binti Khuwailid dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

“Pengorbanan kita di jalan dakwah ini belum seberapa. Mari belajar dari istri Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid, yang hingga akhir hayatnya menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama Allah SWT,” ujarnya.

Dalam pantun, ia turut menyampaikan pesan budaya Melayu yang menjunjung tinggi nilai agama dan adab sebagai kekuatan dalam perjuangan dakwah.

Bunga melati harum baunya
Kembang setaman di tengah laman
Adat Melayu indah budayanya
Sopan santun jadi pegangan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Riau, Suheri Abdullah, M.M., menekankan pentingnya pelaksanaan program kerja secara nyata dan terukur.

“Seluruh program yang telah disusun oleh departemen harus dilaksanakan, tidak hanya ditulis. Tulis apa yang mau dikerjakan, kerjakan apa yang ditulis, sehingga program lebih efektif dan efisien,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa jati diri adalah inti dari identitas seseorang yang mencakup nilai-nilai, keyakinan, karakter, bakat, hingga tujuan hidup.

“Tetap istiqamah karena kita sudah berada dijalur yg benar. Dengan tetap istiqomah, Allah tidak tinggal diam, Dia menurunkan malaikat untuk terus mendapingi kita yg terus mendoakan kita untuk tidak takut dan bersedih dalam gerakan perjuangan ini karena surga menanti kita,” ujarnya.

Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan PP Mushida, Saidah Abdullah Said, pada penutupan acara menyampaikan penguatan mengenai pentingnya membangun organisasi yang mandiri dalam tiga aspek utama.

Pertama, mandiri secara ekonomi melalui pemberdayaan usaha muslimah, penguatan ekonomi keluarga, koperasi, dan unit-unit produktif organisasi.

“Kedua, mandiri secara kebijakan dengan menjaga setiap keputusan organisasi agar tetap selaras dengan jati diri Hidayatullah dan kebutuhan umat tanpa intervensi yang menyimpang dari prinsip perjuangan,” urainya.

Ketiga, mandiri dalam pengembangan organisasi melalui pembinaan dan kaderisasi internal agar mampu melahirkan kader-kader penggerak secara berkelanjutan.

“Jika suatu wilayah membutuhkan penguatan kepemimpinan, maka Mushida harus mampu menyiapkan kader internalnya sendiri tanpa selalu bergantung pada pihak luar,” jelasnya.

Melalui Rakerwil ini, Muslimat Hidayatullah Riau diharapkan semakin solid dalam memperkuat dakwah, pembinaan keluarga, pendidikan, dan pemberdayaan umat, serta mampu menjadi organisasi muslimah yang mandiri dan berpengaruh di tengah masyarakat.

TERKAIT LAINNYA