BRIN Perkenalkan Panca Samudra Nusantara sebagai Kerangka Riset Laut Dalam

NN Newsroom

Kamis, 12 Februari 2026

Ilustrasi gambar : biota laut ( foto: ArcGis StoryMaps/sumber: RRI)

NASIONAL.NEWS (Jakarta) — Peneliti Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A’an Johan Wahyudi, menegaskan bahwa laut dalam memiliki peran mendasar dalam menopang berbagai aspek kehidupan maritim Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan yang menguraikan pentingnya memahami laut dalam melalui kerangka konseptual yang lebih dekat dengan publik.

A’an menjelaskan bahwa karakter geografis Indonesia sangat didominasi oleh wilayah laut dalam. Ia menekankan bahwa kedalaman laut bukan sekadar ruang geografis yang jauh dari jangkauan, melainkan bagian integral dari sistem kehidupan nasional.

“Sekitar tiga perempat laut Indonesia adalah laut dalam. Namun, laut dalam sering dianggap jauh dari keseharian,” tulisnya yang dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (12/2/2026).

Ia menguraikan bahwa berbagai fenomena yang tampak di permukaan laut sebenarnya dipengaruhi oleh proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan. Dinamika arus, distribusi oksigen, siklus karbon, dan pergerakan nutrien di kedalaman laut memainkan peran penting dalam menentukan kondisi perikanan, stabilitas pelabuhan, hingga keselamatan pelayaran nasional.

“Kedalaman yang tak terlihat itu sesungguhnya bekerja senyap menopang kehidupan di atasnya,” tulis A’an.

Panca Samudra Nusantara

Menurutnya, pendekatan ilmiah terhadap laut dalam selama ini cenderung menggunakan bahasa teknis yang kurang mudah dipahami masyarakat luas. Oleh karena itu, ia memperkenalkan konsep Panca Samudra Nusantara sebagai kerangka pemahaman yang lebih komunikatif dan sistematis.

“Laut dalam sering hadir sebagai angka teknis: arus, suhu, salinitas, oksigen, karbon, dan koordinat. Bahasa itu penting bagi ilmuwan, namun kurang dekat bagi publik,” tulisnya.

Kerangka tersebut terdiri atas lima sudut pandang utama yang menggambarkan fungsi strategis laut dalam. Pertama, Samudra Adhikara, yang berkaitan dengan pemetaan dasar laut sebagai fondasi pengambilan keputusan infrastruktur dan konservasi. Kedua, Samudra Caksana, yang menekankan pentingnya sistem observasi berkelanjutan untuk mendukung aktivitas perikanan dan pelayaran.

Ketiga, Samudra Jiwana, yang memandang laut dalam sebagai sumber potensi bioteknologi, termasuk pengembangan obat dan enzim industri. Keempat, Samudra Gati, yang berkaitan dengan mitigasi bencana laut seperti gempa dan tsunami. Kelima, Samudra Kala, yang menempatkan laut dalam sebagai komponen penting dalam sistem iklim global.

A’an menjelaskan bahwa lima perspektif tersebut merupakan dasar bagi misi nasional riset laut dalam Indonesia.

“Dengan kerangka tersebut, laut dalam tidak lagi dipandang sebagai ruang gelap di peta, melainkan sebagai sistem yang dapat dipahami, dipantau, dan dikelola untuk kepentingan publik,” tulisnya.

Indonesia Alur Utama Sirkulasi Laut Indo-Pasifik

Ia juga menekankan posisi strategis Indonesia dalam konteks regional. Secara geografis, Indonesia berada di jalur utama sirkulasi laut Indo-Pasifik, yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Posisi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai pengarah riset dan pengelolaan laut dalam di kawasan.

Menurut A’an, peran tersebut mencakup kemampuan menentukan agenda riset, menyediakan data ilmiah, serta memimpin kerja sama regional dalam pengelolaan laut.

“Data bukan sekadar angka; ia adalah bahasa diplomasi baru di abad maritim,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa manfaat riset laut dalam akan terasa langsung dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam akurasi prediksi musim ikan, pembangunan pelabuhan yang aman, hingga pengembangan obat berbasis organisme laut.

“Bahasa yang dekat akan melahirkan rasa memiliki. Tanpa dukungan masyarakat, sistem observasi terbaik pun mudah menjadi menara gading,” tulisnya.

A’an juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif tentang laut dalam sebagai bagian dari identitas nasional. Ia menyebut bahwa pemahaman publik merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan laut jangka panjang.

“Sejarah menunjukkan, bangsa yang mampu menamai lautnya sendiri lebih mudah merawatnya,” tulisnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran strategis dalam pengelolaan laut global, terutama di tengah dinamika perubahan iklim dan geopolitik maritim.

“Dengan menjadikan Panca Samudra Nusantara sebagai bahasa bersama, kita membuka jalan agar laut dalam tidak lagi sunyi, melainkan berbicara kepada bangsa yang hidup di atasnya,” tulis A’an.

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version