NASIONAL.NEWS (Jakarta) — Isu bonus demografi dan tantangan menuju Indonesia Emas 2045 menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Seminar Nasional Kepemudaan pada rangkaian Musyawarah Nasional IX Pemuda Hidayatullah. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Jumat (9/1/2025), dengan menghadirkan Dr. Sigit Raditya sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Staf Khusus Bidang Hukum dan Regulasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia ini menegaskan bahwa bonus demografi tidak secara otomatis menjadi keuntungan strategis bagi bangsa.
Sigit menyampaikan bahwa keunggulan jumlah penduduk usia produktif harus dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia agar benar-benar menghasilkan kemajuan.
Risiko dan Kapasitas
Tanpa persiapan yang matang, kata Sigit lebih lanjut, bonus demografi justru berpotensi melahirkan berbagai risiko. Ia menyebut pengangguran terdidik, instabilitas sosial, serta konflik identitas sebagai tantangan nyata yang dapat muncul jika generasi muda tidak dibekali kapasitas yang memadai.
Sigit menekankan bahwa Indonesia Emas tidak ditentukan oleh usia negara, melainkan oleh kualitas manusianya. Oleh karena itu, ia memaparkan empat kualitas utama yang dibutuhkan menuju 2045.
Pertama, ia membeberkan, pemimpin yang visioner dan berintegritas. Kedua, birokrat yang profesional dan berorientasi pada pelayanan. Ketiga, pengusaha yang inovatif dan mandiri. Keempat, masyarakat yang kritis dan berdaya.
Dalam kerangka tersebut, ia menempatkan pemuda sebagai aktor kunci yang diharapkan memainkan tiga peran sekaligus. Pemuda diharapkan menjadi kekuatan moral yang menjaga nilai, kekuatan pengetahuan yang berbasis data dan riset, serta kekuatan politik yang berani masuk ke dalam sistem.
“Tidak semua harus jadi politisi, tapi harus ada yang masuk politik,” kata Sigit, seraya menegaskan bahwa keterlibatan pemuda dalam sistem tidak bersifat opsional jika ingin memastikan arah kebijakan sejalan dengan kepentingan jangka panjang bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan ekonomi pemuda. Menurutnya, ketahanan mental, kemandirian ekonomi, dan keteguhan diri merupakan prasyarat agar pemuda mampu bertahan dalam proses politik jangka panjang yang penuh dinamika.
Dalam bagian akhir pemaparannya, Sigit menyerukan agar pemuda tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Ia menekankan bahwa Indonesia Emas 2045 membutuhkan arsitek peradaban yang siap berkolaborasi dan bekerja secara kolektif.
