NASIONAL.NEWS (Malang) — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan bahwa rakyat Indonesia diperbolehkan untuk berdebat dan bersaing, namun pada akhirnya diharapkan tetap menjaga kerukunan demi keutuhan bangsa.
Ia menekankan bahwa persatuan dan kesatuan nasional merupakan hal mendasar yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, terutama para pemimpin di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri acara Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, pada Minggu (8/1/2026).
Dalam sambutannya, Presiden mengajak seluruh pihak di Indonesia untuk bersama-sama menciptakan suasana damai dan rukun, seraya mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya menyimpan rasa dendam, kebencian, atau dengki terhadap pihak lain.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menyinggung peran Nahdlatul Ulama dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia menyatakan bahwa NU selama ini menunjukkan komitmen dalam menjaga persatuan nasional.
“Saudara-saudara sekalian, NU selalu memberi contoh. NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan. Dan memang itulah pelajaran sejarah. Tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun,” kata Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Perbedaan dalam Kerangka Persatuan
Presiden menegaskan bahwa dinamika perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa. Namun, ia mengingatkan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh berujung pada perpecahan.
Menurutnya, kompetisi dan perdebatan harus ditempatkan dalam kerangka persatuan.
“Karena itu, saya selalu mengajak semua unsur selalu mari kita bersatu. Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Presiden Prabowo juga menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara perdamaian dan kesejahteraan bangsa. Ia menyebut bahwa sejarah menunjukkan tidak ada kemakmuran yang dapat tercapai tanpa adanya perdamaian.
Ia menegaskan bahwa perdamaian tidak mungkin terwujud apabila para pemimpin tidak memiliki sikap bersatu dan saling menghormati.
Dalam lanjutan sambutannya, Presiden mengajak seluruh pemimpin, baik di tingkat nasional maupun di berbagai sektor, untuk memusatkan perhatian pada kepentingan rakyat.
Ia menyatakan bahwa pemimpin di setiap lapisan memiliki tanggung jawab untuk mengabdikan diri bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Para pemimpin di setiap eselon, pemimpin politik, pemimpin ekonomi, pemimpin intelektual, semuanya harus berpikir, berpikir, berpikir, berjuang, mengabdi untuk kepentingan rakyat Indonesia semuanya,” kata Presiden Prabowo.
Pemimpin Tidak Boleh Dendam
Ia juga menegaskan sikap yang menurutnya tidak seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. “Tidak boleh pemimpin punya dendam, tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain,” katanya.
Pada bagian akhir sambutannya, Presiden Prabowo mengutip filosofi Jawa yang ia sebut sebagai ajaran para guru, kiai, dan leluhur bangsa. Ia menyampaikan bahwa nilai tersebut menekankan pentingnya sikap saling menghormati dan menghindari kebencian.
“Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu ‘mikul dhuwur mendhem jero’. Tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah. Sesudah berbeda cari persatuan, cari kesamaan, musyawarah untuk mufakat. Itu kepribadian bangsa Indonesia,” ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan, memperkuat perdamaian, serta menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
