Sujud Jalan Keluar dari Krisis Kesombongan Manusia

NN Newsroom

Jumat, 17 Juli 2026

DI TENGAH derasnya arus informasi, manusia modern justru semakin sulit menemukan kebenaran. Kita hidup pada zaman ketika setiap orang memiliki data, pendapat, bahkan “pakar” pilihannya sendiri.

Perdebatan tentang ekonomi, politik, agama, pendidikan, hingga persoalan sehari-hari berlangsung tanpa jeda. Anehnya, semakin banyak informasi tersedia, semakin sulit pula manusia menerima kemungkinan bahwa dirinya keliru.

Fenomena itu tampak dalam hampir semua ruang kehidupan. Ketika ekonomi melemah, pemerintah memiliki narasi optimistis, sementara para ekonom mengajukan kritik yang sama-sama didasarkan pada data.

Di media sosial, seseorang dipuja sebagai tokoh intelektual hari ini, lalu dihujat habis-habisan esok hari hanya karena satu pandangan yang dianggap menyimpang dari ekspektasi publik. Di lingkungan kerja, keluarga, organisasi, bahkan majelis ilmu, perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertarungan ego yang berkepanjangan.

Pertanyaan mendasarnya bukan lagi siapa yang paling keras berbicara, melainkan di mana sebenarnya kebenaran itu berpihak.

Al-Qur’an menawarkan jawaban yang sangat mengejutkan. Bukan dengan menyuruh manusia memperbanyak debat, bukan pula dengan memperluas argumentasi, tetapi dengan satu perintah yang tampak sangat sederhana:

“Wasjud waqtarib.”

“Bersujudlah dan mendekatlah kepada Allah.”

Perintah yang menutup Surah Al-‘Alaq itu sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang gerakan ibadah, melainkan menawarkan sebuah paradigma kehidupan. Sujud adalah titik ketika manusia berhenti mengagungkan dirinya sendiri.

Penyakit yang Tidak Disadari

Jauh sebelum psikologi modern berbicara mengenai bias kognitif, Al-Qur’an telah memperingatkan adanya penyakit paling berbahaya dalam diri manusia.

“Kallā inna al-insāna layaṭghā.”

“Sekali-kali tidak! Sungguh manusia benar-benar melampaui batas.”

Kata “thughyan” yang digunakan Al-Qur’an tidak sekadar berarti kezaliman atau pemberontakan. Para mufasir menjelaskan bahwa ia bermula dari satu persepsi yang sangat halus: merasa cukup.

Merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Merasa cukup dengan jabatan yang dipegang. Merasa cukup dengan pengalaman hidup. Merasa cukup dengan amal ibadah. Merasa cukup dengan kelompoknya.

Ibnu Asyur menjelaskan bahwa rasa cukup itu sebenarnya hanyalah ilusi. Manusia tetaplah makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Allah, tetapi ia membangun persepsi seolah-olah dirinya telah memiliki kendali penuh atas hidupnya.

Di sinilah akar kesombongan bertumbuh. Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan yang keras atau perilaku arogan. Sering kali ia hadir sebagai keyakinan yang tampak rasional.

Seorang pejabat merasa hanya pendapat orang selevelnya yang layak didengar. Seorang akademisi sulit menerima kritik dari orang yang gelarnya lebih rendah. Seorang aktivis menganggap kelompoknya sebagai satu-satunya representasi kebenaran.

Bahkan, seorang yang rajin beribadah dapat terjebak merasa dirinya lebih saleh daripada orang lain. Kesombongan ternyata tidak selalu lahir dari kekuasaan. Ia juga dapat lahir dari ilmu, pengalaman, bahkan amal.

Mengapa Sujud Menjadi Jawabannya?

Menariknya, Al-Qur’an tidak menawarkan terapi intelektual untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Allah justru memerintahkan manusia bersujud.

Mengapa?

Karena sujud adalah satu-satunya keadaan ketika seluruh simbol keagungan manusia runtuh secara bersamaan. Kepala—tempat akal, identitas, harga diri, dan ego—diletakkan sejajar dengan tanah.

Tidak ada jabatan. Tidak ada gelar akademik. Tidak ada kekayaan. Tidak ada popularitas. Tidak ada pengaruh. Semuanya hilang ketika dahi menyentuh bumi.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa justru pada posisi paling rendah itulah manusia mencapai kemuliaan tertinggi. Sebab kemuliaan sejati bukan berasal dari meninggikan diri, melainkan dari kesediaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi.

Inilah paradoks Islam.

Manusia tidak menjadi mulia karena berdiri paling tinggi, tetapi karena mampu merendahkan dirinya di hadapan Allah.

Krisis Informasi, Krisis Kerendahan Hati

Barangkali persoalan terbesar masyarakat modern bukan kekurangan informasi. Kita justru mengalami ledakan informasi.

Yang semakin langka adalah kerendahan hati.

Media sosial membuat semua orang merasa mampu menjadi analis ekonomi, pakar politik, ahli kesehatan, bahkan mufasir agama hanya karena membaca beberapa potong informasi.

Algoritma kemudian memperparah keadaan. Manusia lebih sering mengonsumsi informasi yang menguatkan keyakinannya daripada informasi yang mengoreksi cara berpikirnya.

Akibatnya, setiap orang hidup di dalam ruang gema (echo chamber), tempat semua pendapatnya terus dibenarkan.

Al-Ghazali sejak berabad-abad lalu telah mengingatkan bahwa ibadah yang tidak menghadirkan hati tidak akan mengubah manusia. Sujud yang sejati bukan sekadar gerakan fisik, melainkan momen ketika seseorang rela melepaskan klaim bahwa dirinya selalu benar.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan agar memperbanyak doa ketika sujud. Pada saat itulah hati berada dalam posisi paling terbuka menerima petunjuk.

Bukan sekadar tambahan informasi. Melainkan hidayah.

Kebenaran Memerlukan Hati yang Lapang

Mungkin selama ini kita keliru mengira bahwa kebenaran selalu berpihak kepada orang yang paling cerdas. Padahal belum tentu.

Kebenaran juga tidak otomatis berpihak kepada mereka yang paling senior, paling populer, paling vokal, atau paling banyak pengikutnya.

Kebenaran berpihak kepada hati yang paling siap menerimanya. Sebab hati yang dipenuhi rasa cukup tidak lagi memiliki ruang untuk menerima cahaya baru.

Di sinilah relevansi perintah “wasjud waqtarib” bagi kehidupan modern. Sujud bukan sekadar ritual harian, melainkan latihan spiritual untuk menghancurkan ego yang terus tumbuh tanpa kita sadari.

Setiap kali bersujud, seorang mukmin sedang mengingatkan dirinya bahwa tidak ada ilmu, pengalaman, jabatan, atau amal yang membuatnya berhak merasa paling benar.

Ia tetap seorang hamba. Tetap fakir di hadapan Allah. Tetap membutuhkan petunjuk setiap saat.

Barangkali karena itulah Surah Al-‘Alaq—surah yang dibuka dengan perintah membaca dan ilmu pengetahuan—ditutup bukan dengan ajakan memperbanyak argumentasi, melainkan dengan perintah bersujud.

Seolah Al-Qur’an ingin mengingatkan bahwa ilmu tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan baru.

Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan sujud akan melahirkan manusia yang merdeka dari ego, lapang menerima kebenaran, dan semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, persoalan terbesar manusia bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan terlalu mudah merasa telah mengetahui. Dan obat paling ampuh bagi penyakit itu bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan memperbanyak sujud. Di sanalah manusia belajar melepaskan klaim kebenarannya sendiri, agar Allah membimbingnya menuju kebenaran yang hakiki.

*) Muhammad Saddam, penulis adalah intelektual muda yang kini memimpin perguruan tinggi STIE Hidayatullah

TERKAIT LAINNYA

Exit mobile version